Thursday, May 16, 2013 - 0 comments

Kids movie

Beberapa waktu lalu kakak ipar saya menjanjikan sesuatu kepada Ara. Katanya di rumah ia punya barbie. Lalu ketika ada kesempatan ketemu diberikan lah mainan yang di janjikan nya itu kepada Ara. Badala, it wasnt barbie. Ternyata yang di kasih itu mainan bongkar pasang dengan karakter disney princess, snow white dan cinderella. Its not even close to any barbie in the world. Can you see the similiarity? Barbie? Disney princess? *sigh*
Mungkin di luar sana banyak orang tua seperti kakak ipar saya itu. Mereka tidak update karakter kartoon anak atau mainan-mainan anak atau bahkan hal-hal yang sedang trend di kalangan anak-anak. Theyre just too busy making money for their kids, but they just dont care at all about what makes their kids happy. Their own kids especially, all the kids in the world generally.
I love watching movies, so does my kid. Or i just can say that i whose introduce movies to her. Saya memang yang memilihkan tontonan buat anak saya, meskipun itu terlihat arogan, karena saya memilih apa yang akan di tonton anak menurut baik buruknya dari segi pandang saya saja. Karena kami tidak berlangganan tv kabel yang menyediakan channel khusus anak dan bayi maka kami membelikan Ara cd. Pada masa bulan-bulan pertama Ara kami menggempurnya dengan tumpukan vcd baby einsten. Kata nya sih bisa bikin anak cerdas, wether true or wrong, yang jelas ia terhibur. Menginjak masa yang lebih kompleks kami mengenalkannya dengan Barney. It worked well. Barney memang di rancang untuk usia 1 tahun ke atas. Gerakan di film seri barney lambat, mempermudah anak untuk mengikuti jalan cerita tanpa terburu-buru. Selain itu Barney penuh dengan nyanyian. Kiddos love singing and dancing right? Selain itu kita juga belajar banyak tentang lagu-lagu anak. Selain Barney kami juga memberikan nya Telletubbies dan Pocoyo.
Setelah berabad-abad televisi kami di jajah Barney and friends, kami sekarang mengalami sebuah revolusi. Sekarang televisi kami di sabotase Strawberry shortcake dan Dora the explorer. Kemajuan kan? Selain itu kami juga memperkenalkan Ara pada Mickey mouse, Doc Mcstuffin, Frosty the snowman, dan beberapa serial lain yang menarik. Ara nggak suka thomas, the cars, atau robot-robot. Well, yes, Ara is a girl off course.
Suatu hari keponakan main ke rumah, celana nya bergambar baby bop, teman Barney. Waktu itu Ara bilang mah, baby bop, sang sepupu menjawab bukan, itu barney!, kemudian si ibu menegaskan ya, itu barney. Oh god, dinosaurus perempuan  hijau itu adalah baby bop, please. Lalu suami saya nimbrung ya, itu baby bop. Dalam rangka membela anak kami, dan mengutakan kebenaran ke penjuru dunia. And that sister in law just didnt care. Why she didnt care? I just dont get her. pada suatu ketika yang lain, sepupu suami main ke rumah. Ia seumuran dengan saya, anak nya pun Cuma beda 3 bulan dari Ara. Waktu tanya soal film kesukaan ara menyebut strawberry shortcake, secara mengejutkan si tante pun menyanyi lagu soundtrack strawberry shortcake. Oh how i love her. meskipun anak nya cowok tapi nggak membuat dia nggak ngerti soal  film anak cewek. Thats what cancer does, we love our family. Toss ya maaak. *lhoh?*
Yes, i loove watching movies. Not only in genres that i like to watch, but also what my kid watchs. Mengapa kadang kita merasa terlalu tua dan bijaksana untuk ikut menonton apa yang di tonton anak? Mengapa dengan menyerahkan anak kepada tontonan nya membuat kita leluasa meninggalkannya dengan segala kesibukan kita yang lebih penting? mengapa oh mengapa? bukan nya sombong ya, saya hanya menemani anak saya nonton film nya. saya mengetahui apa saja cd yang anak saya koleksi. Saya tau judul mana yang mengandung cerita apa. Saya tau scene mana yang anak saya ingin tonton berulang-ulang. Saya ngerti semua lagu dalam film-film anak saya. Well, nggak semua hapal, kadang beberapa saya Cuma bisa nada nya. Bahkan suami saya harus nanya dulu, ma, mana ini strawberry kutek-kutek?.  title menu, nomor dua dari bawah, judulnya yang glittery, kamu cepetin sampe sini, terus balik lagi sebentar sampai episode yang pertama selesai. Yes, saya penguasa remote control.
Apa mungkin karena saya ibu rumah tangga jadi saya bisa leluasa nonton film? Nggak juga. Waktu saya kerja pun ketika sore hari anak saya nonton film nya saya ikut nemenin. Meskipun pikiran kita terbebani dengan wah cucian banyak, capek banget dan lain-lain, tapi sedikit mungkin saya berusaha menemani anak nonton.  Pernah suatu masa ketika saya sibuk ini itu, saya nggak ikut nonton serial barney baru yang di tonton Ara. Saya ketinggalan jauh. Sampai waktu anak saya minta yang bagian ini itu saya nggak tau, buta sama sekali. Saya merasa bersalah,si anak marah-marah, porak porandah. Mungkin ini susah nya membagi pikiran ketika ngurusin anak. They ask you your whole body and mind. Nggak bisa setengah-setengah. Bagi para ibu bekerja, luangkan lah waktu untuk duduk santai menonton bersama anak. Lupakan ini itu yang harus dikerjakan. Just be present. Untuk ibu rumah tangga, mak nyuci nya nanti aja waktu anak tidur.
Kalau kita menyerahkan tontonan kepada anak maka akan sulit bagi nya mencerna bagian tertentu yang tidak ia mengerti. Ia juga belum tentu nangkep maksud film kalau bukan kita yang menjelaskan. Kalau kita nggak ngerti karakter dalam film yang ia tonton kepada siapa ia bisa bertanya. Apalagi balita kan belum bisa baca. Contoh nya film strawberry shortcake, ia punya banyak karakter. Apalagi nama-namanya hampir sama. Perpaduan nama buah dan kue. Hampir sama dengan aturan membaca buku untuk anak, kita di harapkan membaca dulu untuk mengetahui isinya sebelum di bacakan kepada anak kan? Begitu juga dengan film. Kalau bukan kita, Kepada siapa anak bertanya beda nya raspberry dan strawberry? Mereka sama-sama punya rambut berwarna merah. ma, angel cake itu suka nya mayah-mayah ya ma, kata ara suatu ketika. iya, jangan suka marah kalau main, nanti ndak punya temen, harus smile dan happy biar temen nya banyak. Angel cake di suatu episode bersikap sangat tidak sportif, tiap kali ia tidak bisa menangkap bola ia marah kepada teman-teman nya. How do you know if you dont watch the movie? Thank me i did.
Menemani anak nonton filmnya nggak harus di lakukan tiap saat kok. Anda cukup menonton nya sekali dua kali. Tonton dengan seksama sehingga anda tau isi film, nama karakter, barang-barang apa yang di gunakan, dan apa pesan moralnya. Barang-barang?? Jaga-jaga kalau si anak tanya ma, yang di pakai orange blossom tadi apa namanya?. Nah lo. Setidaknya anda tau dunia anak anda, and you wont get lost.
Menonton film anak bukan berarti anda kehilangan waktu efektif. Menjadi kanak-kanak lagi itu bukan dosa. Lagi pula nggak ada yang menuntut kita selalu dewasa. Be with your kids, and be a kid again and again, its just fun.

Wednesday, May 15, 2013 - 0 comments

Librari-lover

Saya tiba-tiba kangen sama perpustakaan. Well,i was a library maniac. Dulu sewaktu masih nomaden, young, single and available, saya nggak pernah nggak punya library member card.
Semua berawal dari perpustakaan esema. Disana saya pertama  kali bertemu trilogi genduk duku-lusi lindri-roro mendut. Disitu lah pertama kali saya merasa euforia mendapat akses gratis ke berbagai macam jendela dunia. Saya juga ingat dulu ketika kelas tiga esema saya sering pulang sendiri. Kalau berjalan memutar melewati perempatan alun-alun saya akan melewati perpustakaan daerah. Awalnya saya agak takut dengan bangunan nya yang tua. Gedung mana sih yang ga tua kalau di kelola pemerintah?  Ternyata setelah memasuki bangunan dalam nya saya merasa menikmati suasana homy sebuah perpustakaan. Dont judge a library from its building. Haha. Penjaga perpustakaan nya pun ramah.  Suasana nya nyaman dan dingin. Peminat nya pun lumayan banyak. Kebanyakan memang para pelajar, dari usia sekolah dasar sampai sekolah menengah umum seeprti saya waktu itu. Setelah buku perpustakaan sekolah tidak lagi menarik maka kesini lah saya mampir sepulang sekolah. Hanya bermodalkan kartu pelajar saya sudah mengantongi kartu anggota. Buku-buku nya pun lumayan lengkap untuk ukuran perpustakaan daerah. It is a great memory.
Setelah kuliah saya diperkenalkan dengan perpustakaan wilayah oleh teman-teman kampus. Sebagai anak baru di kota tentu saya takjub dengan koleksi buku yang perpustakaan wilayah (perwil) punya, dibanding dengan perpustakaan sekolah dan daerah di kota kecil saya. Saya merasa beruntung sekali. Apa sih yang ngalahin bau harum buku-buku yang berjejer rapi di rak? It was my little heaven. Untuk beberapa periode disana lah saya menghabiskan waktu.
Setelah bekerja nyambi kuliah ( kebalik nggak sih? ) saya jarang sekali membaca buku. Itu mungkin dikarenakan saya bekerja di seputar internet. Selain itu keinginan mempunyai buku lebih besar di banding meminjam. Karena tempat kerja saya di tengah pusat kota maka akses menuju toko buku pun gampang. Dari toko Gunung agung, gramedia, sampai merbabu. Saya mulai membeli buku. Tidak lagi meminjam. Lagi pula jarak tempat saya kerja-rumah dengan perpustakaan wilayah lumayan jauh. Jadilah saya mulai menjauhi perpustakaan. Apalagi setelah saya lulus kuliah, otomatis saya nggak punya KTM lagi. Makin susah jadi member perwil. Harus dapat surat RT/ instansi tempat kerja. Repot ya. Apalagi semakin menua makin malas lama-lama baca. Lebih baik lama-lama bergaul. Hiyahh.
Sekitar tahun 2008 saya mengeluarkan diri dari tempat kerja yang nyambi kuliah tadi. Berhubung kakak saya menyewa rumah agak jauh dari pusat kota jadi nya saya agak malas keluar-keluar. Saya lupa entah dari mana mendapat informasi tentang perpustakaan daerah di daerah itu, yang jelas saya udah nyasar aja kesana. Hehe. Apalagi bangunan itu tidak bertuliskan perpustakaan daerah melainkan instansi pemerintah lain yang saya lupa apa itu. Pokoknya disana kerinduan saya akan akses buku murah pun terobati. Hanya membayar biaya pendaftaran sekitar Rp. 10.000,- saya bisa meminjam buku sesuka hati saya. Jangan salah lho menilai perpustakaan daerah disana, meskipun nggak lengkap banget tapi saya bisa menemukan Paulo Coelho. Keren kan?
Setelah menikah maka dapat di tebak bahwa saya tidak lagi mengakses buku-buku. Anda benar, tapi juga sedikit salah. Haha. Setelah menikah saya bersama suami tinggal di daerah kota. Tapi tidak lantas saya mendaftar kan diri jadi anggota perwil lagi. Karena saat itu saya bekerja maka saya tidak punya waktu luang tengah hari untuk melakukan transaksi pinjam meminjam di perwil. Tapi saya tidak kalah akal, saya mendaftar penyewaan buku komersial. Well, bisa di bilang mahal sih, tapi kalau ga pegang buku rasanya gimana gitu ya. Meskipun di persewaan buku itu kebanyakan hanya novel dan buku fiksi tapi itu tidak mengurungkan niat saya. Kadang nyempil buku bagus diantara tumpukan buku nggak menarik, kan?
Masa-masa awal punya anak diwarnai dengan kesibukan. Maka untuk masalah buku vakum dulu. Yang sering di baca hanya sumber-sumber tumbuh kembang anak. Tapi setelah anak menginjak 1 tahun rasa rindu membaca itu datang lagi. Kebetulan di tempat baru itu ada persewaan buku juga. Agak mahal sih kalau di hitung-hitung tapi persewaan buku ini lumayan bagus juga. Buku-buku nya pun nggak main-main. Bayangkan, di persewaan buku yang kebanyakan koleksinya adalah komik kita bisa menemukan buku berat nya Karen Armstrong. I was a lucky girl.
Sekarang, di tempat tinggal baru ini saya seperti terbuang jauh ke masa purba. Tidak ada perpustakaan, tidak ada persewaan buku, jauh dari toko buku, jobless-which mean i can not spend money that i am not earn-, i am totally lonesome.
Thats why how i miss spending time all day long dlosoran in the library. I miss those times. Bau buku di rak, suasana orang-orang yang nutupin buku-buku yang mau kita lihat, atau rebutan mau ngambil buku yang sama. Saya Cuma bisa berharap nanti kalau anak saya sudah cukup besar saya bisa mengajari nya mencintai (and dying for) perpustakaan. Like i was, and i am still.

Sunday, April 28, 2013 - 0 comments

Anak lagi?

Yah..si babe udah mimpi punya bayi laki-laki lagi. Hehe. We really want to have another baby. Tapi....

Thursday, February 14, 2013 - 0 comments

Dilema nya jadi Ibu jaman sekarang


Betapa dilematis nya menjadi perempuan kebanyakan di jaman modern ini. Anda tidak dapat merengkuh dua pilihan dalam kehidupan mengenai anak anda. Anda hanya boleh memilih satu, dengan berbagai macam konkuensi. Wanita pekerja atau ibu rumah tangga. Kalau di jaman dulu, dengan psikologi orang jawa, wanita hanya punya satu pilihan. Menjadi ibu rumah tangga dan semua orang memakluminya. Kalau pun beberes rumah dan nganter makan suami di sawah sih sudah kewajiban ya. Maksud saya disini, perempuan jaman itu tidak di tuntut oleh perkembangan jaman. Kebutuhan informasi, perkembangan pemikiran dan kemampuan, serta berbagai macam tetek bengek emansipasi. Well, i am not trying to say that is a bad thing, tapi kebutuhan cara pandang dan pemikiran membuatnya tidak se-sederhana jaman dulu.
Saturday, September 22, 2012 - 0 comments

Saat melahirkan


Just got this list from www.bidankita.com. Sebenernya ini list untuk  pengalaman melahirkan, tapi boleh juga bagi para bumil sebagai referensi untuk memilih rumah sakit terbaik, sebagai persembahan untuk ibu dan si buah hati. Less trauma more happiness.
1.       Kalau di RS/RB besar, boleh ga melahirkan dg posisi sesuka klien? Jongkok, nungging duduk, merangkak, bahkan berdiri? #gentlebirth
2.       Kalau di RSt/RB besar, boleh ga lampunya diredupin? #gentlebirth
3.       Kalau di RS/RB besar, boleh ga suami dan ibu menemani hingga proses melahirkan selesai? #gentlebirth
4.       Kalau di RS/RB besar, boleh suami/ si kakak menyaksikan proses persalinan? #gentlebirth
5.       Saat anda melahirkan dulu boleh gak makan minum sesuka nya #gentlebirth
6.       Saat anda melahirkan dulu, didampingi pakai hypnobirthing tidak sama bidan/perawatnya #gentlebirth
7.       Saat anda melahirkan dulu apakah suasanya hommy dan bikin betah? #gentlebirth
8.       Saat anda melahirkan dulu bidan dan perawatnya ramah tamah dan sangat menenangkan tidak ya? #gentlebirth
9.       Saat anda melahirkan dulu begitu bayi lahir IMD atau segera dipisahkan dg ibu? #gentlebirth
10.   Saat anda melahirkan dulu apakah suasana nya indah, menyenangkan bahkan romantis? #gentlebirth
11.   Saat anda melahirkan dulu boleh apakah privasi anda di jaga? #gentlebirth
12.   Saat anda melahirkan dulu ketika anda ada rasa ingin mengejan apakah bidan/dokter/perawatnya ngasih aba-aba #gentlebirth
13.   Saat anda melahirkan dulu boleh tidak anda minta disetelin musik  klasik, relaksasi, atau musik yang anda suka? #gentlebirth
14.   Saat anda melahirkan dulu apakah anda dan suami bisa leluasa saling bermesraan, berciuman juga? #gentlebirth
15.   Saat proses persalinan selama nunggu pembukaan lengka, apakah bu bidannya mau mijeti dan meluk anda saat and kesakitan? #gentlebirth
16.   Saat bayi lahir bagaimana tingkah laku bidan dalam memperlakukan bayi anda?
17.   Saat persalinan dulu kalau tiba-tiba di saat mengejan anda ingin berubah posisi bahkan pindah tempat
18.   Apakah dulu setelah melahirkan diterapkan rooming in di persalinan anda? Bahkan sharing be dengan bayi?
19.   Berbicara tentang privasi, pernah enggak saat melahirkan dulu anda malah dipakai bahan praktek
20.   Saat melahirkan dulu apakah pakai mengejan kuat atau cukup nafas (tanpa mengejan) ?
21.   Saat kepala bayi crowning (keluar sebagian dari vagina) boleh ga tangan anda memegang kepala bayi?
22.   Jika dirasa banyak trauma, mulai lah healing.



- 0 comments

In law


Menikah memang tidak menjadikan kehidupan sederhana. Sebaliknya malah memperumitnya. Ini bukan hanya masalah menyatukan dua tubuh,jiwa dan pemikiran ke dalam sesuatu yang bernama kompromi, tapi juga belajar-selama waktu yang tidak dapat ditentukan- berkompromi pada anggota-anggota keluarga baru. Ingat, mereka bukan saudara tapi terpaksa menjadi saudara.
Istilah, bila kau menikah maka kau juga menikahi keluarga calon pasangan mu, itu benar adanya, dan tidak mudah di praktekkan. Kecuali suami/istri anda adalah anak tunggal yatim piatu dan orang tua nya juga merupakan anak tunggal dari pasangan anak tunggal. There will be brothers and sisters in law. In Law, secara hukum. Sudara yang terjadi berdasarkan hukum negara/ adat istiadat/ budaya. If you can not accpet them, you’ll die. Sooner or later, body and soul.
Beberapa teman yang baru menikah mengisahkan hal ini. Cerita tentang saudara ipar yang bawel dan merepotkan, cerita tentang mertua yang pilih kasih, serta cerita pasangan yang ternyata anak mami. Newly wed seems happy couple, tapi mereka ga sadar kalau menikah  itu bukan tutup buku setelah kalimat happily ever after. Yang tutup adalah buku menjadi bujang. Tapi anda menulis cerita baru dalam buku baru, baru kata pengantar sudah banyak tantangan. Apakah Bab I juga demikian. You decide.
I’ll share lil bit mine. Dalam bagian Kata pengantar saya sudah mengalami banyak tantangan. Then i know it won’t be over. Jelek kata, ipar/mertua yang ga bisa cocok sama kita itu ibarat penyakit ganas di tubuh kita. if it can not be healed so we should live with it. Survive, that is the answer. Mereka sudah begitu jauh sebelum kita kenal mereka. Kita nggak bisa nyuruh mereka berubah seperti yang kita inginkan dalam jangka waktu sebentar. They can not change, and so are you. Compromise.
Wajar sih ya kalau ada kesempatan ketemu pengennya berantem aja, atau kalau bisa nggak usah ketemu sekalian. Yang kedua ini ga mungkin dong ya. Soalnya kita punya hari raya yang harus di rayakan keluarga besar. Satu-satunya cara adalah, survive. Kalau saya orangnya seperti gunung berapi yang masih aktif. Sepertinya kalem, tapi gejolak amarah dalam diri saya begitu besar. Daripada cari ribut, saya memilih diam. Awalnya saya bisa berpura-pura, mau di ketusin saya diem, mau di jelek-jelekin saya diem, lama-lama saya nggak bisa membiarkan orang lain berlaku seolah saya mengijinkan mereka nge-bully saya. Biasanya saya menghindar. Tempat paling aman adalah ngedeketin mertua. Satu-satunya orang di keluarga suami yang ga mungkin mencobai saya.
Bila pada sebuah masa mereka akan baik, jangan takut, karena suatu saat mereka akan kejam juga. Jadi, kalau sekarang mereka kejam, pasti suatu saat akan baik. Kalau kita punya kesadaran bahwa pada hakikatnya kita berasal dari rahim yang sama, semua konflik jadi sedikit berkurang bobot penderitaannya. Take it or leave it, that easy. Kalau hidup Cuma sekali kita nggak banyak butuh drama.
In law things? It just one chapter, we still have another happy chapter in our marriage book.
Thursday, September 20, 2012 - 0 comments

Dear daughter


Dear daughter,
Suatu saat kamu akan menemukan bahwa cinta tidak semudah yang kita lihat di film atau kita baca di novel Harlequin. Hal itu semakin rumit jika cinta berhadapan dengan pernikahan. Aku berharap 25 tahun dari sekarang semua norma tentang pernikahan yang baik atau tidak baik sudah di hapus dari muka bumi ini, sehingga apa yang aku akan sampaikan sekarang sudah tidak relevan lagi. Bahagia untukmu.
Bagi beberapa orang yang beruntung, mereka akan menikahi orang yang mereka cintai. Itu juga kalau tidak dalam 5 atau 10 tahun kemudian cinta bertranformasi ke dalam bentuk yang lain. Eternal flame? Itu jika ketersediaan gas dalam bumi mencukupi, sehingga udara yang bergesekan bisa membentuk (seolah) api abadi. Abadi menurut siapa? Menurut usia kita? Belum tentu menurut usia anak cucu. Demikian pula cinta, atau semacamnya. Cinta di awal pernikahan yang menggebu bisa meredup ketika berhadapan dengan realita kehidupan. Belum tentu orang yang kita cintai setengah mati bisa menjadi rekan hidup. Ada kala nya mereka mengekang, ada kala nya ada sesuatu dalam diri kita yang hilang, itu mengakibatkan perasaan menjadi mengambang, bimbang, kemudian cinta hilang. Tapi ada beberapa yang pandai menyesuaikan diri, jika cinta berubah wujud mereka pun menyiapkan wadah baru untuk menampung wujud yang baru. Terus menerus. Selama sisa hidup mereka. Ketika lelah, mereka berpisah. Lalu melanjutkan siklus yang sama, hanya dengan orang yang berbeda. Sampai mereka mati.

Untuk sebagian orang lagi, mereka ditakdirkan menikahi sahabat mereka. Bagusnya dibanding dengan cinta yang bicara, ketika kita tidak sepaham itu tidak terlalu menyakitkan. Karena sahabat sudah terlatih menghadapi kita. Semua berjalan mulus, sedikit kerikil itu biasa, tapi tetap bisa sejalan bergandeng tangan. Jangan bicara rasa, toh cinta tidak selalu sempurna. Untuk kasus seperti ini, kau harus siap dengan segala konsekuensi. Ada saatnya kau akan bertemu dengan orang yang membuat hati mu serasa di pukul palu bertalu-talu. Memar, bengkak, tapi tidak sampai pecah. Sehingga pahit dan ngilu nya hanya kau yang tau. Lalu kau melihat suami mu. Ternyata menikah dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Jika kau bijak maka kau akan tahu, bahwa tahapan perasaan yang kau rasakan kepada suami mu bisa saja lebih tinggi di banding dengan cinta palu-mu. Kau memang tidak merasakan apa pun, tapi apa yang dibutuhkan lagi jika semua sudah terpenuhi? Sedang cinta palu-mu itu, lupakan. Waktu akan menyembuhkan luka bekas operasi, apalagi kalau Cuma memar dalam hati. Kalau kau berani, berpisahlah dengan suami mu. Kejar orang yang membawa palu itu, lalu kau mengalami yang pertama aku ceritakan tadi.

Untuk sisa nya, mereka menikahi bukan siapa-siapa. Mungkin di jodohkan, siapa tahu? Atau mereka mabuk ketika mengucapkan janji pernikahan sehingga sama sekali tidak punya ide dengan siapa mereka akan menghabiskan waktu hidup. Yang ini bukan pengalamanku, aku berharap ini juga bukan pengalamanmu.
Beberapa manusia senang mencari. Ketika mereka menemukan mereka tetap ingin mencari. Bahkan ketika mereka sudah mendapat semua, mereka masih mencari. Beberapa yang lain gampang bersyukur, bahkan ketika yang di dapat tidak sesuai dengan keinginan, mereka berhenti bersujud berterimakasih pada alam. Kamu pilih sendiri, mau yang mana untuk masalah cinta.
Cinta adalah sesuatu yang rumit. Dia mencintaiku, aku mencintai nya yang lain, dia yang lain mencintai nya yang lain lagi, dia yang lain lagi mencintai nya yang lain lagi lagi. Happy is about now, present time. Not  about the future or the past..dengan siapa kamu menghabiskan detikmu sekarang itu lah cinta sejatimu.