Betapa dilematis nya menjadi perempuan kebanyakan di jaman
modern ini. Anda tidak dapat merengkuh dua pilihan dalam kehidupan mengenai
anak anda. Anda hanya boleh memilih satu, dengan berbagai macam konkuensi.
Wanita pekerja atau ibu rumah tangga. Kalau di jaman dulu, dengan psikologi
orang jawa, wanita hanya punya satu pilihan. Menjadi ibu rumah tangga dan semua
orang memakluminya. Kalau pun beberes rumah dan nganter makan suami di sawah
sih sudah kewajiban ya. Maksud saya disini, perempuan jaman itu tidak di tuntut
oleh perkembangan jaman. Kebutuhan informasi, perkembangan pemikiran dan
kemampuan, serta berbagai macam tetek bengek emansipasi. Well, i am not trying
to say that is a bad thing, tapi kebutuhan cara pandang dan pemikiran
membuatnya tidak se-sederhana jaman dulu.
Saturday, September 22, 2012 -
0
comments
0
comments
Saat melahirkan
Just got this list from www.bidankita.com.
Sebenernya ini list untuk pengalaman
melahirkan, tapi boleh juga bagi para bumil sebagai referensi untuk memilih
rumah sakit terbaik, sebagai persembahan untuk ibu dan si buah hati. Less
trauma more happiness.
1.
Kalau di RS/RB besar,
boleh ga melahirkan dg posisi sesuka klien? Jongkok, nungging duduk, merangkak,
bahkan berdiri? #gentlebirth
2.
Kalau di RSt/RB
besar, boleh ga lampunya diredupin? #gentlebirth
3.
Kalau di RS/RB besar,
boleh ga suami dan ibu menemani hingga proses melahirkan selesai? #gentlebirth
4.
Kalau di RS/RB
besar, boleh suami/ si kakak menyaksikan proses persalinan? #gentlebirth
5.
Saat anda
melahirkan dulu boleh gak makan minum sesuka nya #gentlebirth
6.
Saat anda melahirkan
dulu, didampingi pakai hypnobirthing tidak sama bidan/perawatnya #gentlebirth
7.
Saat anda
melahirkan dulu apakah suasanya hommy dan bikin betah? #gentlebirth
8.
Saat anda
melahirkan dulu bidan dan perawatnya ramah tamah dan sangat menenangkan tidak
ya? #gentlebirth
9.
Saat anda
melahirkan dulu begitu bayi lahir IMD atau segera dipisahkan dg ibu?
#gentlebirth
10. Saat anda melahirkan dulu apakah suasana nya indah,
menyenangkan bahkan romantis? #gentlebirth
11. Saat anda melahirkan dulu boleh apakah privasi anda
di jaga? #gentlebirth
12. Saat anda melahirkan dulu ketika anda ada rasa ingin
mengejan apakah bidan/dokter/perawatnya ngasih aba-aba #gentlebirth
13. Saat anda melahirkan dulu boleh tidak anda minta
disetelin musik klasik, relaksasi, atau
musik yang anda suka? #gentlebirth
14. Saat anda melahirkan dulu apakah anda dan suami bisa
leluasa saling bermesraan, berciuman juga? #gentlebirth
15. Saat proses persalinan selama nunggu pembukaan
lengka, apakah bu bidannya mau mijeti dan meluk anda saat and kesakitan?
#gentlebirth
16. Saat bayi lahir bagaimana tingkah laku bidan dalam
memperlakukan bayi anda?
17. Saat persalinan dulu kalau tiba-tiba di saat mengejan
anda ingin berubah posisi bahkan pindah tempat
18. Apakah dulu setelah melahirkan diterapkan rooming in
di persalinan anda? Bahkan sharing be dengan bayi?
19. Berbicara tentang privasi, pernah enggak saat
melahirkan dulu anda malah dipakai bahan praktek
20. Saat melahirkan dulu apakah pakai mengejan kuat atau
cukup nafas (tanpa mengejan) ?
21. Saat kepala bayi crowning (keluar sebagian dari
vagina) boleh ga tangan anda memegang kepala bayi?
22. Jika dirasa banyak trauma, mulai lah healing.
In law
Menikah memang
tidak menjadikan kehidupan sederhana. Sebaliknya malah memperumitnya. Ini bukan
hanya masalah menyatukan dua tubuh,jiwa dan pemikiran ke dalam sesuatu yang
bernama kompromi, tapi juga belajar-selama waktu yang tidak dapat ditentukan-
berkompromi pada anggota-anggota keluarga baru. Ingat, mereka bukan saudara
tapi terpaksa menjadi saudara.
Istilah, bila kau
menikah maka kau juga menikahi keluarga calon pasangan mu, itu benar adanya,
dan tidak mudah di praktekkan. Kecuali suami/istri anda adalah anak tunggal
yatim piatu dan orang tua nya juga merupakan anak tunggal dari pasangan anak
tunggal. There will be brothers and sisters in law. In Law, secara hukum.
Sudara yang terjadi berdasarkan hukum negara/ adat istiadat/ budaya. If you can
not accpet them, you’ll die. Sooner or later, body and soul.
Beberapa teman yang
baru menikah mengisahkan hal ini. Cerita tentang saudara ipar yang bawel dan
merepotkan, cerita tentang mertua yang pilih kasih, serta cerita pasangan yang
ternyata anak mami. Newly wed seems happy couple, tapi mereka ga sadar kalau
menikah itu bukan tutup buku setelah
kalimat happily ever after. Yang tutup adalah buku menjadi bujang. Tapi anda
menulis cerita baru dalam buku baru, baru kata pengantar sudah banyak
tantangan. Apakah Bab I juga demikian. You decide.
I’ll share lil bit
mine. Dalam bagian Kata pengantar saya sudah mengalami banyak tantangan. Then i
know it won’t be over. Jelek kata, ipar/mertua yang ga bisa cocok sama kita itu
ibarat penyakit ganas di tubuh kita. if it can not be healed so we should live
with it. Survive, that is the answer. Mereka sudah begitu jauh sebelum kita
kenal mereka. Kita nggak bisa nyuruh mereka berubah seperti yang kita inginkan
dalam jangka waktu sebentar. They can not change, and so are you. Compromise.
Wajar sih ya kalau
ada kesempatan ketemu pengennya berantem aja, atau kalau bisa nggak usah ketemu
sekalian. Yang kedua ini ga mungkin dong ya. Soalnya kita punya hari raya yang
harus di rayakan keluarga besar. Satu-satunya cara adalah, survive. Kalau saya
orangnya seperti gunung berapi yang masih aktif. Sepertinya kalem, tapi gejolak
amarah dalam diri saya begitu besar. Daripada cari ribut, saya memilih diam.
Awalnya saya bisa berpura-pura, mau di ketusin saya diem, mau di jelek-jelekin
saya diem, lama-lama saya nggak bisa membiarkan orang lain berlaku seolah saya
mengijinkan mereka nge-bully saya. Biasanya saya menghindar. Tempat paling aman
adalah ngedeketin mertua. Satu-satunya orang di keluarga suami yang ga mungkin mencobai saya.
Bila pada sebuah
masa mereka akan baik, jangan takut, karena suatu saat mereka akan kejam juga.
Jadi, kalau sekarang mereka kejam, pasti suatu saat akan baik. Kalau kita punya
kesadaran bahwa pada hakikatnya kita berasal dari rahim yang sama, semua
konflik jadi sedikit berkurang bobot penderitaannya. Take it or leave it, that
easy. Kalau hidup Cuma sekali kita nggak banyak butuh drama.
In law things? It
just one chapter, we still have another happy chapter in our marriage book.
Thursday, September 20, 2012 -
0
comments
0
comments
Dear daughter
Dear daughter,
Suatu saat kamu akan menemukan bahwa cinta
tidak semudah yang kita lihat di film atau kita baca di novel Harlequin. Hal
itu semakin rumit jika cinta berhadapan dengan pernikahan. Aku berharap 25
tahun dari sekarang semua norma tentang pernikahan yang baik atau tidak baik sudah
di hapus dari muka bumi ini, sehingga apa yang aku akan sampaikan sekarang
sudah tidak relevan lagi. Bahagia untukmu.
Bagi beberapa orang yang beruntung, mereka
akan menikahi orang yang mereka cintai. Itu juga kalau tidak dalam 5 atau 10
tahun kemudian cinta bertranformasi ke dalam bentuk yang lain. Eternal flame?
Itu jika ketersediaan gas dalam bumi mencukupi, sehingga udara yang bergesekan
bisa membentuk (seolah) api abadi. Abadi menurut siapa? Menurut usia kita?
Belum tentu menurut usia anak cucu. Demikian pula cinta, atau semacamnya. Cinta
di awal pernikahan yang menggebu bisa meredup ketika berhadapan dengan realita
kehidupan. Belum tentu orang yang kita cintai setengah mati bisa menjadi rekan
hidup. Ada kala nya mereka mengekang, ada kala nya ada sesuatu dalam diri kita
yang hilang, itu mengakibatkan perasaan menjadi mengambang, bimbang, kemudian cinta
hilang. Tapi ada beberapa yang pandai menyesuaikan diri, jika cinta berubah
wujud mereka pun menyiapkan wadah baru untuk menampung wujud yang baru. Terus
menerus. Selama sisa hidup mereka. Ketika lelah, mereka berpisah. Lalu
melanjutkan siklus yang sama, hanya dengan orang yang berbeda. Sampai mereka
mati.
Untuk sebagian orang lagi, mereka ditakdirkan
menikahi sahabat mereka. Bagusnya dibanding dengan cinta yang bicara, ketika
kita tidak sepaham itu tidak terlalu menyakitkan. Karena sahabat sudah terlatih
menghadapi kita. Semua berjalan mulus, sedikit kerikil itu biasa, tapi tetap
bisa sejalan bergandeng tangan. Jangan bicara rasa, toh cinta tidak selalu
sempurna. Untuk kasus seperti ini, kau harus siap dengan segala konsekuensi. Ada
saatnya kau akan bertemu dengan orang yang membuat hati mu serasa di pukul palu
bertalu-talu. Memar, bengkak, tapi tidak sampai pecah. Sehingga pahit dan ngilu
nya hanya kau yang tau. Lalu kau melihat suami mu. Ternyata menikah dan cinta
adalah dua hal yang berbeda. Jika kau bijak maka kau akan tahu, bahwa tahapan
perasaan yang kau rasakan kepada suami mu bisa saja lebih tinggi di banding dengan
cinta palu-mu. Kau memang tidak
merasakan apa pun, tapi apa yang dibutuhkan lagi jika semua sudah terpenuhi?
Sedang cinta palu-mu itu, lupakan.
Waktu akan menyembuhkan luka bekas operasi, apalagi kalau Cuma memar dalam
hati. Kalau kau berani, berpisahlah dengan suami mu. Kejar orang yang membawa
palu itu, lalu kau mengalami yang pertama aku ceritakan tadi.
Untuk sisa nya, mereka menikahi bukan
siapa-siapa. Mungkin di jodohkan, siapa tahu? Atau mereka mabuk ketika
mengucapkan janji pernikahan sehingga sama sekali tidak punya ide dengan siapa
mereka akan menghabiskan waktu hidup. Yang ini bukan pengalamanku, aku berharap
ini juga bukan pengalamanmu.
Beberapa manusia senang mencari. Ketika mereka
menemukan mereka tetap ingin mencari. Bahkan ketika mereka sudah mendapat
semua, mereka masih mencari. Beberapa yang lain gampang bersyukur, bahkan
ketika yang di dapat tidak sesuai dengan keinginan, mereka berhenti bersujud
berterimakasih pada alam. Kamu pilih sendiri, mau yang mana untuk masalah
cinta.
Cinta adalah sesuatu yang rumit. Dia
mencintaiku, aku mencintai nya yang lain, dia yang lain mencintai nya yang lain
lagi, dia yang lain lagi mencintai nya yang lain lagi lagi. Happy is about now,
present time. Not about the future or
the past..dengan siapa kamu menghabiskan detikmu sekarang itu lah cinta
sejatimu.
Sunday, September 16, 2012 -
0
comments
0
comments
Child's name
Nama Anak. Kalau boleh sedikiiit nyesel boleh
dong ya saya mengakui. Saya dulu nggak begitu niat buat cari nama anak. Katanya
sih kalau masih di bawah 7 bulan ga boleh terlalu ngapa2in, maksudnya mungkin
perlengkapan bayi, tapi menurut saya juga termasuk nama anak. Hihi. Apalagi
pada usia 7 bulan si calon bayi waktu itu dalam keadaan sungsang, boro-boro
mikir nama anak dan jenis kelamin, doa kami waktu itu Cuma posisi janin bisa
normal. Tapi memang kami berdua masih jadi calon orang tua songong waktu itu, jadi
nggak terlalu mikirin tetek bengek kebayian.
Tapi saya pernah bikin catatan nama calon
bayi. Kandidat untuk cowok adalah : Yudha. Kalau nggak salah artinya pejuang. Tapi
karena ramalan orang kebanyakan kalau anak saya cewek jadinya lebih banyak nama
perempuan yang kepikiran. Sempet mau kasih nama “Sekar”. Mamah saya dulu
katanya pengen kasih nama anak nya sekar, dan ga kesampaian. Lalu saya juga
kepikiran nama “kidung”. Kesannya kalem, agung, dan indah. Kenapa ya waktu itu
saya nggak kepikiran nama bule, yunani, sansekerta, atau bahkan arab? Nggak tau
juga, saya mikirnya orang kalau tau nama anak saya nggak perlu nanya arti.
Karena nama anak saya sudah terjelaskan dalam bahasa ibu kita. Oh tapi saya
sempat kepikiran kasih nama “abigail”. Artinya anak kesayangan ayah. Tapi waktu
itu murid di tempat saya bekerja juga bernama abigail. Takutnya dikira
ikut-ikutan. Jadinya gagal deh kasih nama dari bahasa asing.
Jadilah kami memberi nama anak sesaat setelah
saya melahirkan. Singkat dan padat. Mesti terdengar sangat sederhana di banding
nama anak masa kini kebanyakan. Semoga besar nant,i ketika dia bisa punya uang
buat ganti akte, dia nggak kepengen ganti nama. Hehe.
Friday, September 14, 2012 -
0
comments
0
comments
Buku
Dulu sewaktu hamil
ketertarikan saya terhadap buku menjadi berubah. Tidak lagi mengejar buku best
seller atau yang memenuhi keinginan pribadi. Suka nya mengoleksi buku panduan
tentang ibu dan anak. Tentang menu bubur bayi dan pure (MPASI), menu anak
balita, kiat anak susah makan, bahkan sampai majalah dan tabloid pun yang
bertema ibu dan anak. I dont care about the world deh. My world is only about
me and my baby.
Setelah Ara besar
saya berpikir berarti saya harus care untuk terus memberinya buku bacaan. Berarti
kalau ke toko buku saya harus cari buku bacaan anak dong ya. Jadi kalau punya
anak koleksi buku nya ya Cuma buku anak-anak dong yes. Nothing else. Ternyata saya salah *menunduk*
Ketika kita punya
anak, bukan berarti kita hanya memberinya buku anak-anak untuk dibaca nya. Tapi
kita tetap harus memberi diri kita buku. Bukan lagi hanya buku kesukaan kita
lho, tapi buku yang berkenaan dengan tumbuh kembang anak. Biasanya kumpulan
tips disediakan oleh tabloid Nakita. Mereka mengeluarkan banyak seri buku tergantung
usia anak, bahkan ada pula yang mulai masa kehamilan. Tapi selain itu ada
buku-buku yang biasanya kurang di lirik oleh orang tua karena tidak biasa.
Yaitu buku pendidikan yang biasa di gunakan oleh tenaga pendidik. Ya kan saya
bener kan? Apa anda para orang tua (tentunya yang tidak berkecimpung di dunia
pendidikan) memilih untuk membeli buku panduan guru? Mungkin hanya sedikit ya
yang kepikiran.
Buku yang saya
maksud adalah buku-buku panduan pendidikan bagi anak. Salah satu yang saya
sukai adalah “Aktivitas Tematik Untuk Anak” terbitan Erlangga. Di buku itu
banyak panduan kegiatan untuk orang tua sesuai dengan tahap usia anak. Untuk
orang tua awam seperti saya buku itu membantu. Karena kita bisa menyediakan
permainan menarik untuk anak untuk menstimulasi perkembangannya sesuai dengan
usia. Contohnya yang saya lakukan kemarin adalah mengenalkan bentuk. Lingkaran,
persegi, persegi panjang, dll. Melalui permainan menyenangkan. Masih banyak
lagi kok. You’ll figure it out by yourself ya.
Kita sebagai orang
tua jangan membatasi diri untuk mendapat ilmu pengetahuan. Semakin banyak kita
tau semakin kita bisa bekerjasama dengan guru anak untuk meengusahakan
pendidikan yang tepat bagi buah hati. Contohnya ya, saya baru tau, dari buku
“Permainan Edukatif yang mencerdaskan” terbitan PowerBook Publishing, kalau
potongan di permainan puzzle itu harus sesuai dengan usia anak. Contohnya :
usia 2-3 tahun potongan puzzle nya tidak boleh lebih dari 4 biji, usia 3-4
tahun potongan puzzle nya tidak boleh lebih dari 5 biji, dan usia TK potongan puzzle nya tidak boleh lebih dari 6
biji. Soal puzzle ini saya jadi ingat ponakan. Jadi emak nya si bocah ini
jualan puzzle. Beliau membeli nya grosiran, jenis nya seperti puzzle yang biasa
di jual di depan sekolah dasar itu lho. Jadi gambarnya macam-macam, dari
spongebob yang obvious sampai gambar ultraman yang sophisticated. Dan
potongannya itu nauzubilah banyak nya. Semua bentuknya geometris, abstrak serta
surreal. Karena tiap hari dia melihat
puzzle itu kayak mainan aja jadinya sang
ponakan bisa merangkai nya lho, padahal usianya baru 4 tahun. Dari spongebobo,
Mc queen nya The Cars, sampai berbagai macam versi Ultraman. So? You tell me.
Jadi, mari
perbanyak koleksi buku perkembangan anak nya, ya bundz J
Tuesday, September 11, 2012 -
0
comments
0
comments
what a mess
I dont like something is messing. Meskipun sekarang
udah agak mendingan sih, lebih bisa tolerir ke diri sendiri kalau wajar rumah
berantakan. Namanya juga ada balita, they are little monsters indeed. Rumah
baru bisa bersih kalau anak tidur. Nanti kalau udah bangun ya berantakan lagi.
Selain ga suka yang berantakan, saya juga ga
sabaran. Paling ga bisa nyuruh anak makan sendiri. Kelamaan dan berantakan.
Kalau pun sedang waras terus anak boleh makan sendiri, itu pun tiap nasi
berjatuhan pasti udah saya ambilin sebelum jatuh nasi yang kedua. Semakin
menjadi-jadi kalau makan di luar rumah. Rempong deh cyun. Kalau suami paling ga
bisa lihat orang ga pakai sandal. Cuma ke depan buat nutup pagar tapi ga pakai
sandal pasti udah kena omelan. Well, you can imagine what kind of parents Ara
has.
Memang benar kalau nggak kotor nggak belajar.
Tapi susah ya kalau ngebiarin baju anak kotor kalau dijadiin alat buat minterin
dia. Kalau bisa pinter dengan jalan bersih, kenapa enggak. Apalagi kalau pas
lagi ada acara keluar terus dia kotor-kotoran. Ga rela rasanya. Kalau keluar
kan berarti kita pakai baju bagus dong, ya paling enggak bukan piyama lah.
Kalau sekali kotor bisa ilang kotorannya ya gapapa, kalau kedua ketiga,
seberapa ampuh sih detergen bisa ngilangin noda yang udah bertumpuk? Ga sedap
dipandang, baju nya ga bisa di pakai keluar lagi karena penampilan anak jadi
kucel. Ya kan ya kan?
Beda sama kakak ipar saya. Dengan dalih
semboyan ‘kalau ga kotor ga belajar/ga pintar’ dia membiarkan anak nya ngapain
aja. Main lumpur, ga pake sendal, habis main di luar ga pake sendal terus naik
ke kasur. Adoh, kalau itu namanya sih udah ga peduli kebersihan ya. Waktu keponakan
masih kecil pernah saya singgung, dia Cuma jawab “ah dia mah tiap hari udah
begitu”. Dimana peran orangtua?
Baju kucel itu menunjukkan bagaimana kita
mendidik anak lho. Apalagi kalau baju dipakai keluar rumah. Selain ga sedap
dipandang, kebersihan dan ketegasan kita kepada anak bisa dilihat orang. Baju
kucel karena main tanah, sampai yang warna aslinya putih menjadi coklat?
Tandanya ada dua sebab : baju nya buat main tanah Cuma itu (sampai noda nya
numpuk), atau detergen nya ga ampuh? :D ga ding becanda. It’s oke kalau
sekali-sekali membiarkan anak main tanah, tapi sampai bajunya udah ga layak
pakai, mending mulai membatasi anak dalam bermain. Ga setiap ada lumpur dia
boleh nyemplung dong yes? Mungkin boleh aja saat main bola terus tiba-tiba
hujan, jadinya mainan sambil kena lumpur. Atau kayak iklan salah satu sabun
cuci baju, membantu nenek mencari kunci yang jatuh di kubangan lumpur. Itu dimaklumi,
asal ga setiap hari. Bukan nya pinter, malah kena cacingan.
‘kalau ga kotor ga belajar’ itu justru
filosofinya adalah mendidik anak hidup bersih. Kalau hari ini ga sengaja kena
kotoran lumpur, besok jangan lewat jalan yang itu lagi. Kalau kena tumpahan
saos saat mau ambil dari botolnya sendiri, besok lagi lebih hati-hati bawa
botolnya. Dulu waktu di sekolah lama, tiap kali mau main cat/kotor orang tua
selalu diberi catatan untuk memawa extra clothes yang bisa dipakai kotor-kotoran,
jadi seragamnya tetap aman. Terus lagi, Kalau hari ini baju kotor kena tumpahan
es krim, berarti ngajarin kalau besok lebih hati-hati makan es krim nya.
Minimal tiap hari semakin sedikit tumpahan es krim yang jatuh. Atau maksimal
nya jangan pakai cone, tapi pakai cup + sendok aja. Ya nggak sih? (pembaca
menjawab : enggaaakk!)
Saya memang bukan tipe mencuci sampai
kinclong, baju anak juga ga putih-putih amat. Tapi kalau bisa kucel nya masih
sedap dipandang karena kena keringet, bukan karena membiarkan anak bermain
sesuka mereka. Keterlaluan? Nggak juga. Waktu anak saya baru satu tahun dia tau
kalau habis makan susu terus kemasan kosongnya di buang di tempat sampah.
Sekarang pun kalau ada kotoran yang jatuh di lantai dia pungut. Kalau makan ada
nasi jatuh dia bilang ‘mah, ada nasi’ minta untuk dibersihkan dari
mulut/baju/lantai tepat ia makan. Nggak jelek-jelek amat kan kalau belajar bersih sejak dini?
Kalau boleh kotor-kotoran, boleh juga dong
bersih-bersihan. You know, balance.
Subscribe to:
Posts (Atom)