Tuesday, September 11, 2012 - 0 comments

what a mess


I dont like something is messing. Meskipun sekarang udah agak mendingan sih, lebih bisa tolerir ke diri sendiri kalau wajar rumah berantakan. Namanya juga ada balita, they are little monsters indeed. Rumah baru bisa bersih kalau anak tidur. Nanti kalau udah bangun ya berantakan lagi.
Selain ga suka yang berantakan, saya juga ga sabaran. Paling ga bisa nyuruh anak makan sendiri. Kelamaan dan berantakan. Kalau pun sedang waras terus anak boleh makan sendiri, itu pun tiap nasi berjatuhan pasti udah saya ambilin sebelum jatuh nasi yang kedua. Semakin menjadi-jadi kalau makan di luar rumah. Rempong deh cyun. Kalau suami paling ga bisa lihat orang ga pakai sandal. Cuma ke depan buat nutup pagar tapi ga pakai sandal pasti udah kena omelan. Well, you can imagine what kind of parents Ara has.
Memang benar kalau nggak kotor nggak belajar. Tapi susah ya kalau ngebiarin baju anak kotor kalau dijadiin alat buat minterin dia. Kalau bisa pinter dengan jalan bersih, kenapa enggak. Apalagi kalau pas lagi ada acara keluar terus dia kotor-kotoran. Ga rela rasanya. Kalau keluar kan berarti kita pakai baju bagus dong, ya paling enggak bukan piyama lah. Kalau sekali kotor bisa ilang kotorannya ya gapapa, kalau kedua ketiga, seberapa ampuh sih detergen bisa ngilangin noda yang udah bertumpuk? Ga sedap dipandang, baju nya ga bisa di pakai keluar lagi karena penampilan anak jadi kucel. Ya kan ya kan?
Beda sama kakak ipar saya. Dengan dalih semboyan ‘kalau ga kotor ga belajar/ga pintar’ dia membiarkan anak nya ngapain aja. Main lumpur, ga pake sendal, habis main di luar ga pake sendal terus naik ke kasur. Adoh, kalau itu namanya sih udah ga peduli kebersihan ya. Waktu keponakan masih kecil pernah saya singgung, dia Cuma jawab “ah dia mah tiap hari udah begitu”.  Dimana peran orangtua?
Baju kucel itu menunjukkan bagaimana kita mendidik anak lho. Apalagi kalau baju dipakai keluar rumah. Selain ga sedap dipandang, kebersihan dan ketegasan kita kepada anak bisa dilihat orang. Baju kucel karena main tanah, sampai yang warna aslinya putih menjadi coklat? Tandanya ada dua sebab : baju nya buat main tanah Cuma itu (sampai noda nya numpuk), atau detergen nya ga ampuh? :D ga ding becanda. It’s oke kalau sekali-sekali membiarkan anak main tanah, tapi sampai bajunya udah ga layak pakai, mending mulai membatasi anak dalam bermain. Ga setiap ada lumpur dia boleh nyemplung dong yes? Mungkin boleh aja saat main bola terus tiba-tiba hujan, jadinya mainan sambil kena lumpur. Atau kayak iklan salah satu sabun cuci baju, membantu nenek mencari kunci yang jatuh di kubangan lumpur. Itu dimaklumi, asal ga setiap hari. Bukan nya pinter, malah kena cacingan.
‘kalau ga kotor ga belajar’ itu justru filosofinya adalah mendidik anak hidup bersih. Kalau hari ini ga sengaja kena kotoran lumpur, besok jangan lewat jalan yang itu lagi. Kalau kena tumpahan saos saat mau ambil dari botolnya sendiri, besok lagi lebih hati-hati bawa botolnya. Dulu waktu di sekolah lama, tiap kali mau main cat/kotor orang tua selalu diberi catatan untuk memawa extra clothes yang bisa dipakai kotor-kotoran, jadi seragamnya tetap aman. Terus lagi, Kalau hari ini baju kotor kena tumpahan es krim, berarti ngajarin kalau besok lebih hati-hati makan es krim nya. Minimal tiap hari semakin sedikit tumpahan es krim yang jatuh. Atau maksimal nya jangan pakai cone, tapi pakai cup + sendok aja. Ya nggak sih? (pembaca menjawab : enggaaakk!)
Saya memang bukan tipe mencuci sampai kinclong, baju anak juga ga putih-putih amat. Tapi kalau bisa kucel nya masih sedap dipandang karena kena keringet, bukan karena membiarkan anak bermain sesuka mereka. Keterlaluan? Nggak juga. Waktu anak saya baru satu tahun dia tau kalau habis makan susu terus kemasan kosongnya di buang di tempat sampah. Sekarang pun kalau ada kotoran yang jatuh di lantai dia pungut. Kalau makan ada nasi jatuh dia bilang ‘mah, ada nasi’ minta untuk dibersihkan dari mulut/baju/lantai tepat ia makan. Nggak jelek-jelek amat  kan kalau belajar bersih sejak dini?
Kalau boleh kotor-kotoran, boleh juga dong bersih-bersihan. You know, balance.





Tuesday, September 4, 2012 - 0 comments

neighbor music


Emang bener ya kalau usia nggak bisa menipu, salah satu tanda nya ya cara nangkep musik baru. Aduh, berasa ketinggalan jaman banget kalau ga sengaja liat chanel musik. Gimana lagi, satu-satunya alat komunikasi jendela dunia di sabotase sama si kecil.
Palingan yang sering di dengerin-itupun kalau anak lagi tidur-Cuma lagu-lagu koleksi waktu muda. Itu juga kalau ga kalah sama speaker tetangga sebelah saya. The grany next door likes to listen old songs. Kalau nggak Nia daniaty ya jaman Poppy mercury. Itu sih masih bisa di tolerir ya. Nah pernah nih suatu pagi saya keluar rumah mau jemur pakaian, sayup pelan lalu mengeras terdengar lagu lama sekali seperti tahun 60-an, mungkin sih suara nya Lilis Suryani. Mana rekamannya nggak sejernih sekarang kan ya, jadinya malah merinding. Buru-buru saya nyetel TV, sapa tau saya balik ke tahun-tahun kelam itu. *Heleh, nggak sampe gitu ding*. Now you can guess what kind of life is mine.
I have an ever lasting favorite song. Not beacuse the lyric, i just love it. Vnda Shepard-Baby don’t you break my heart. Saya lupa kenapa suka, saya lupa dari mana pertama dengerin. Tapi saya ingat saya punya kenangan dengan lagu itu. Jadi, dulu waktu masih kerja di jasa internet, semua karyawan mempunya bank data di satu server. Tapi layaknya sebah loker tanpa kunci, siapapun bisa membuka folder karyawan lain. Itu kalau mau, tai buat apa sih, kebanyakan sih pada nggak peduli isi data masing-masing karyawan. Then it came my birthday, tepat nya saya lupa, kayaknya tahun 2006, my 21st. Setelah selesai mempersiapkan yang saya perlu siapkan tiba lah saya duduk manis di depan komputer. Seperti biasa saya membuka folder data saya, dari banyak folder saya melihat 1 folder baru. Oh i forget what it was wrotten. Kayaknya just said happy birthday to me. Lalu saya klik lah isinya apa. Ternyata lagu ituh, vonda shepard. Ternyata dari teman kerja. It was so sweet. Kok dia tau saya suka lagu itu ya? Ah saya lupa segala detail, hanya saja it was one of sweetests birthday present for me.
Tapi, mau lagu kapan pun itu, kita harus tetap mendengarkan lagu. Okay.

Saturday, September 1, 2012 - 0 comments

Menyusui


Ngomong-ngomong tentang menyusui, saya kepengen berbagi pengalaman. Saya menyusui Ara selama 22 bulan. Gagal jadi sarjana Asi karena saya memutuskan untuk bekerja di usianya yang hampir 2 tahun itu. Sedih sih, tapi tetep bangga dengan hal tersebut. Padahal bapaknya bilang saya boleh menyusui bahkan sampai Ara menginjak sekolah dasar. Gile aje, pikir saya waktu itu. Tapi sebenarnya sih tidak ada salahnya selama si anak mau. Mereka punya batas sendiri.
Menyusui tidak semudah yang para ibu berhasil katakan. Pada mula nya begitulah yang terjadi pada saya. Di rumah bersalin, anak saya pada jam awal kelahirannya hanya di beri air gula, lalu ketika di berikan pada saya ( 6 jam kemudian, i didn’tdo IMD ) ASI tetap tidak keluar. Maka dia diberi susu formula ber-merk L. Mungkin susu formula itu memang sponsor rumah bersalin tersebut. Sesampainya di rumah saya tetap berusaha menyusui meski susah keluar. Karena kasihan dengan bayi Ara maka kami memutuskan membeli susu formula sebagai ganti ASI. Sementara itu saya tetap terus berusaha menyusui karena kalau tidak menyusui maka payudara akan penuh dan rasanya sakit sekali. Lama kelamaan saya menikmati menyusui karena kelegaan yang saya rasakan setelah ASI berhasil di sedot Ara. Tapi saya tidak tau seberapa banyak ASI yang keluar sampai suatu hari setelah menyusui ASI masih muncrat kemana-mana dan berhenti nya lama. Surprise sekali bagaimana tubuh saya bisa menghasilkan ASI sedemikian banyak. Sampai-sampai saya harus menyiapkan kain untuk membumpetkan payudara yang tetap mengeluarkan ASI ketika si kecil sudah kenyang. Meskipun kalau saya mencoba memerah dengan tangan tidak sampai bisa memenuhi botol susu tapi saya tetap bersyukur anak saya mengalami peningkatan berat badan pada bulan-bulan pertama. Saya sampai khawatir bagaimana sebenarnya cara kerja payudara. Nanti jangan-jangan seperti silicon nipple yang tetap menumpahkan susu bila di biarkan terbuka dan dalam posisi miring. Ternyata kekhawatiran itu tidak berlangsung lama. Mungkin awalnya memang payudara overload, tapi lama kelamaan seiring dengan pintarnya si kecil menghisap dan kebutuhannya akan ASI yang terus bertambah maka payudara tidak akan mengeluarkan ASI bila tidak di sedot. Ajaib yah.
               Tapi kalau sudah menyusui rasanya enak kok. Saya rasa tapa adanya ruang menyusui di tempat umum kita tidak perlu malu untuk menyusui bayi kapan saja. Orang-orang akan memaklumi. Hanya saja memang tidak semua orang/tempat mau menyediakan kursi bila ibu akan menyusui. Kalau saya sih nggak saya ambil pusing, bayi saya tetap saya gendong sembari saya menyusuinya. Saya bisa menyusui meski tanpa kursi. Seorang teman pernah memperingatkan, yang saya tidak tau apa sumber yang membuatnya mengatakan demikian, bahwa bila saya selalu menyusui bayi saya sambil di gendong maka selama nya dia akan minta di gendong bila ingin menyusu. Maka saya harus membiasakannya menyusu di tempat tidur. Saya sempat takut juga, gimana kalau bayi saya berbobot 10 kg dan masih minta di gendong bila ingin menyusu? Tapi kekhawatiran saya tidak terbukti. Usia lebih dari 6 bulan Ara sudah bisa memilih mana tempat yang lebih enak kalau menyusu, tempat tidur. Jadi nasehat teman saya itu tidak berguna. Hehe. Orang tua terlalu banyak aturan dan keinginan, padahal bayi tau apa yang baik untuknya dan kapan waktu tepatnya.

                Ngomong-ngomong soal aturan, bayi anda tidak bisa anda atur kapan ia mau menyusu. Termasuk saat malam hari. Karena Ara hanya menyusu di 1 payudara, yaitu sebelah kiri, maka selama kurang lebih  1,5 tahun saya tidur dengan posisi miring ke kiri. Karena dari sebelum tidur sampai bangun pagi Ara akan mengenyot puting payudara saya, apakah ASI nya keluar atau tidak saya tidak tau, buktinya ia tidak sampai muntah. Jadi selama kurang lebih 8 jam saya tidur miring dan tidak bisa bergerak. Setiap malam selama lebih dari setahun. Ah, you don’t know what  motherhood is all about kalau nggak sempet ngerasain hal begituan. Hehe. Di tambah saya sering duduk dalam posisi membungkuk, maka terkaan anda benar. Saya mengalami back pain, selama hampir 3 tahun ini.
Anda dapat membaca cerita saya mengenai sapih disini. Sejak di sapih maka saya bisa dengan bebas bergerak seperti dulu lagi. Rasanya melegakan sekali. Mungkin hanya satu bulan. Setelahnya rindu sekali masa-masa menyusui. Apalagi kalau payudara sakit ketika akan menstruasi. Pengennya ASI dikeluarkan, tapi lalu ingat, kalau sudah tidak menyusui lagi.
Mungkin cerita menyusui selama hampir 2 tahun tidak semudah yang saya ceritakan selama beberapa paragraf saja, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Anda tidak tau apa yang harus anda bayar ketika anak anda besar bila anda tidak menyusuinya. Harganya lebih mahal dari penderitaan menyusui. Anak saya sakit bila memang daya tahan tubuhnya sedang drop. Well, she’s not an angel, maka dia juga sakit dong. But thank God, sakit nya yang paling parah adalah Utikraina. Kalau saya ingat-ingat sih itu karena daya tahan tubuhnya yang drop. Kalau lagi down gitu paling dia Cuma flu, batuk, dan utikraina itu. Anak saya sempat terkena panas sampai 40 derajat celcius, dalam kondisi demam setinggi itu saja anak saya masih sadar dan bersikap biasa saja. Itu baru beberapa keuntungan dari disusui, banyak lagi yang anak saya dapat dari mengkonsumsi ASI ibu nya sendiri.
Keuntungan lain adalah, cara pengucapan kalimat yang jelas, meski anak saya baru menginjak 2,5 tahun. Menyusu pada payudara ibu membuat simulasi mulut pada anak lebih sempurna di banding bila ia menggunakan silicon nipple. more advantage, katanya juga sih anak ASI lebih mudah menerima makanan di banding dengan anak SuFor. Karena rasa ASI akan mengikuti apa yang ibu makan, sedangkan SuFor kan gitu-gitu aja ya rasanya. Jadinya tanpa sadar bayi sudah makan soto, opor, rawon bahkan ayam goreng. Dan lagi, ASI itu menjadi dingin bila cuaca panas dan menjadi hangat bila cuaca dingin. Kalau gini apa sih yang bisa menandingi ASI?
Oya saya jadi ingat sebuah cerita lucu, seorang teman pernah bilang kalau busui jangan makan cabe. Karena biji cabe bisa keluar dan kemakan si kecil. Saya heran, masasi lubang puting yang hanya bisa dilalui air kok bisa mengeluarkan biji cabe? Hilarious. The fact is, rasa pedas cabe tidak akan di rasakan oleh si kecil, larangan untuk busui agar tidak makan cabe berlebihan hanya agar tidak diare. Kalau anda diare kan agak repot kalau menyusui bayi. Masuk akal kan? That’s why we need to find more knowledge by READING.
Selama menyusui anda tidak dapat menggunakan baju terusan (dress), baju-baju terusan saat remaja *eciye* hanya bisa dipakai kalau sudah tidak menyusui, dan tentunya bila berat badan anda sudah ideal. You can nnot imagine what busui would do kalau semua orang memaklumi ketika anda makan banyak. “ maaf ya, maklum, buat dua orang”. Argh, alasan! Hehe...
Banyak cerita dan manfaat yang di dapat dengan menyusui. So, go breastfeed your baby J

Thursday, August 30, 2012 - 0 comments

I love to write


Saya suka menulis. Bukan karena saya bisa merangkai kata-kata dengan ciamik. Bukan karena agar di baca orang. Bukan karena biar dapat duit. Saya hanya suka dan harus menulis.
Saya pernah membaca sebuah istilah “ scripta manent, verba volant”. Tulisan itu mengabadi, kata-kata akan berlalu seperti angin. Istilah itu tertanam sekali dalam pikiran saya. Saya lah yang membuat catatan sejarah tentang diri saya sendiri. Penting atau tidak bukan lagi urusan, yang penting nulis.
Saya biasa menulis melalui media blog. Sebenarnya saya tidak mengharap ada yang membaca, hanya saja bila kita menulis di media sosial itu berarti kita terpacu untuk menciptakan tulisan yang baik, minimalnya enak di baca lah. Syukur-syukur topik atau cerita yang kita angkat memberi manfaat/inspiratif bagi orang lain.
Tapi sejarah saya dengan blog cukup panjang juga. Saya pernah suka curhat lewat blog. Jaman itu belum pakai istilah galau. Dan belum marak social media seperti sekarang. Jadinya hanya orang-orang yang memang tau mengenai blog saya yang bisa membacanya. Galau nya masih elegan. Saya suka menulis puisi waktu itu. Kata seorang teman, kalau kita sakit hati kita jadi kreatif. Been there.
Lalu setelah masa kelam penggalauan berlalu saya ganti blog. Lebih terbuka dan suka menceritakan hal-hal umum. Lalu saya bergabung dengan komunitas blogger. Then I found out that I wasn’t making a good desicion by doing that :D udah, introvert sih introvert aja. Tapi saya bersyukur saya punya satu teman yang nyantol dari perkumpulan itu. She’s as smart as dictionary, i love to have a friend like her.
Tapi sayangnya saya sempat pernah nggak nge-blog lama sekali. Dari hamil sampai melahirkan. Setelah melahirkan saya berpikir, masak saya akan membiarkan sejarah yang berlangsung antara saya dan keluarga baru saya berlalu dan tertiup angin. Dan jadilah saya nulis lagi mengenai pengalaman menjadi ibu muda baru. Refreshing sekali.
Lalu saya sempat merasa terganggu ketika ada masalah keluarga mengenai dunia maya. Itu membuat saya mem-filter mana tulisan yang sangat pribadi untuk tidak di-publish dan membuat tulisan  yang nggak akan jadi bumerang di kemudian hari. *for you, I’m watching you, dude! I know you will always looking for my blog, because I won’t stop writing just because of you!!!*
Malam ini saya membuka folder tentang blog lama, saya membaca sebuah tulisan yang membuat saya terkejut. Seperti “oh iya ya, kan hal ini pernah terjadi, kok saya lupa”. Itu membuat saya bersyukur saya pernah menulisnya.
I love to write, i am blessed.


Wednesday, August 29, 2012 - 0 comments

Menyanyi untuk anak


Saya suka menyanyi. Meskipun suara saya tidak bagus dan saya tidak bisa membaca not balok apalagi memainkan alat musik, tapi saya suka menyanyikan lagu. Dua sampai empat kali mendengarkan saja saya sudah bisa menyanyikan lagu yang baru saya dengar, walaupun untuk lirik di butuhkan waktu dan perhatian khusus. *grin*
Pada masa awal ara bayi saya sempat ragu, apakah saya bisa menyanyikan lagu untuknya seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu kepada anak mereka. Apalagi kalau mendengar tante saya menyanyi, rasanya syahdu dan sendu, cocok bila me-nina bobo-kan bayi. Padahal lagu anak kan paling ya itu-itu saja kan ya, tapi kenapa memulainya saja sulit. Jadi, yang pertama anda harus siapkan adalah mental. Mental anti malu. Your voice is gonna be heard around the house. Semua orang akan tau bagaimana cara anda menyanyi. Baik atau buruk? Lupakan. Karena yang pasti akan menikmati adalah anak anda. Awalnya anda bisa menyanyi saat me-nina bobo-kan bayi. Lalu saat memandikan. Lalu saat bermain. Lalu saat jalan-jalan. Anda akan mempunyai jam terbang tinggi. *grin*
Pertumbuhan anak itu tidak terlihat bagi ibu, lho. Kalau sodara jauh bisa berkata “sudah besar ya sekarang” , maka tidak bagi ibu. Satu-satunya tanda adalah jika kemampuannnya bertambah. Dengan menyanyi anda bisa tau pertumbuhan anak. Awalnya anak hanya mendengarkan. Lalu ia akan meminta anda menyanyi. Kemudian ketika kemampuan nya meningkat, ia ikut mendendangkan. Lalu ia mengikuti, meski hanya akhir kata saja. Sampai ia bisa menyanyi sendiri.
Apa beda nya bila anak mengenal nyanyian dari rekaman ( Kaset atau Cd ) dengan dari Ibu? Sebenarnya sih tidak ada beda pada hasil, tergantung kemampuan dan ketertarikan anak. Tapi proses menyanyi akan mendekatkan kita pada anak. Dengan menyanyi kita seperti berbicara kepada anak. Kan tidak selalu kita punya bahan pembicaraan nah dengan nyanyian kita seperti ngobrol kepada anak. Misal bila malam hari kita melihat bulan dan bintang, sedangkan siang hari bisa tentang awan dan matahari, pada berbagai macam jenis kendaraan, selain itu kita juga bisa mengenalkan anak tentang hewan-hewan. Well, memang butuh usaha tertentu. Karena lagu anak itu kan terbatas ya, jadi anda harus mencari referensi lagu dari mana saja tdk hanya pada lagu yang anda ketahui.
Anda bisa memilih tontonan anak-anak yang penuh nyanyian seperti Barney, the backyardigan, dan Dora. They created many songs about everything especialy about kid’s stuffs. Tentang menyikat gigi, berbagai macam perasaan yang di rasakan anak, bahkan tentang hewan peliharaan. Jangan biarkan anda dan anak melamun saat bersama. Ngobrol dengan anak tentang apa saja bisa dengan lagu.
Tapi hati-hati dengan lagu dewasa yang mungkin di dengar anak. Apalagi kalau si kecil menginjak usia 1+. Mereka ini seperti sponge, jadi kalau anda memperdengarkan lagu anak G4L4w jaman sekarang, beberapa waktu lagi jangan kaget kalau si kecil menggumamkan lagu itu. Untungnya saya dan keluarga kurang suka memperdengarkan lagu dewasa baik melalui radio dan televisi *secara semua sumber hiburan di rumah di bajak sama si kecil dan dunianya*. Satu-satunya lagu dewasa yang anak saya bisa adalah musikalisasi puisi Bp. Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Gadis Kecil’. Kebetulan itu lagu kesukaan saya. Saya biasa mendendangkannya, dan saya gunakan lagu itu sebagai backsound video foto anak saya. How proud I am.  *grin lagi*
Dengan menyanyi kita memberi kenangan baik pada anak. Seperti tante saya yang suka menyanyi sebelum tidur, itu kenangan baik yang selalu saya ingat. Mungkin itu yang anak ingat ketika besar, bahwa ia tidak pernah sendiri, mama selalu menemani dengan menyanyi. Bila mereka melihat bulan atau bahkan ketika naik kereta api mereka akan mengingat kita. Mommy always be with you, in every song you sing J


Friday, August 24, 2012 - 0 comments

wedding ring


Some people would worked hard to get a pairs of very expensive wedding ring. Ours? Unfortunately, we were broken at that time, got not enough money to buy the expensive one. But how cheap is ours i was very proud of wearing it. I didnt care what people would think if they saw mine so thin and fragile in my ringman.
Then came one of those days. I were at the kitchen’s of my former office when the phone rang. Brutally i ran out the room with my fingers hang on the door. My wedding ring tersangkut on the pegangan pintu. I felt hurt like heaven.
My finger swallowed and bleed. I couldn’t take it off for it bengkok. For days i live with it. When my finger got better so i could take it off without hurt, my heart broke into pieces. I believe that my husband will buy me another ring, maybe more expensive than my wedding wing. But it has no comparassion, right?
Moral : keep calm how often the phone rings.
Wednesday, August 8, 2012 - 0 comments

Memori Lebaran


Halo, kami sekeluarga mengucapkan selamat lebaran, minal aidin wal faidzin bagi umat islam. Apa memori lebaran mu?
Biasanya di hari pertama lebaran di gunakan oleh umat islam menjenguk sodara yang telah meninggal sesaat setelah shalat Ied. Meskipun kami adalah keluarga nasrani tapi kami juga melakukan hal tersebut. Pagi hari di hari pertama lebaran kami berkumpul di rumah bapak mertua untuk selantunya mengunjungi makam ibu mertua. Makam ibu mertua saya berada di pemakaman umum di tengah kota Semarang yang di sebut Bergota. Bila waktu mengunjungi makam di hari sebelum puasa dan lebaran tiba maka itu adalah saat pemakaman tengah kota tersebut ramai dipenuhi oleh manusia yang tumpah ruah datang dari penjuru Semarang. Tapi seperti layaknya pemakaman lain di Indonesia, secara tiba-tiba tempat tersebut dipenuhi pula oleh pengemis yang entah dari mana asalnya.
Letak pemakaman Bergota memang agak masuk dari jalan utama, Jl. Pandanaran. Jadi sepanjang 300 Meter sebelum area pemakaman, jalan raya sudah dialih fungsikan menjadi pedestrian. Sedangkan ujung jalan utama dan ujung gang masuk di sekitar daerah tersebut sudah menjadi tempat parkir kendaraan. Tapi mirisnya sepanjang jalan yang dilalui para peziarah dipenuhi dengan pengemis. Mungkin jumlahnya dengan peziarah yang datang dan pergi berbanding lurus. Bila di bagian tengah jalan raya ada marka jalan, maka untuk pedestrian mendadak ini menjadi tempat para pengemis khusus (maaf) penderita lepra. Saya tidak tau sejak kapan penderita lepra dipajang di tengah jalan seperti itu, tapi siapapun pengatur nya saya kok tidak sepakat. Apa mungkin pertimbangannya adalah mereka yang mempunyai keterbatasan mendapat bagian tempat yang gampang mendapat sodakoh. Tapi menurut saya, di dunia ini rejeki tidak dapat dipastikan. Ia mengalun dengan iramanya sendiri. Mau ngemis di tengah atau di pinggir jalan kalau belum rejeki ya tidak dapat bagian. Sebelumnya saya minta maaf, tapi para penderita lepra itu bahkan ada yang secara akrobatik meminta-minta. Miris nggak sih? Mau ziarah ke makam saudara malah mendapat pemandangan seperti itu. Orang mau ngasih malah ngeri sendiri. Anak saya yang baru 2,5 tahun saja sampai heran. “Mah, Bapakna Kasian ya”. This is the way the world is spinning around, kid.
Dengan berbagai macam pemberitaan yang terbuka sekarang, masyarakat kita sudah lebih pintar. Bukannya suudzon ya, tapi kalau lihat pengemis pakai baju bagus, badan masih seger, apa ya rela ngasih uang Cuma-Cuma? Apalagi kalau lihat yang gendong anak, bukannya kasian malah kita jengkel. Aduh bu, please deh. Anaknya dititipin siapa kek di rumah. Kalau nggak ada yang dititipin yaaa...gimana ya..caranya gitu..ya gimana baiknya deh *grin*
Bedanya dengan pemakaman di desa ibu saya ya masalah pengemis ini. Hampir tidak ada yang namanya pengemis di desa. Apa ya rela ngukur jalan yang di temuin Cuma sawah :D jadi suasana ziarah lebih kerasa. Apalagi letak makam di desa ibu berada di pojok desa, melewati persawahan pula. Di kelilingi sawah dan sungai pemakaman di desa ibu memang lebih membuat merinding dari pada pemakaman di kota. Apalagi masih di naungi oleh pohon beringin yang sudah tua dan lapuk. Bila musim berangin makin bkin merinding, merinding suasana dan merinding ketakutan kalau-kalau dahan pohon patah :D beda banget sama yang di kota, oya, for yor information, pemakaman umum di Semarang yang bernama Bergota itu udah mirip sama pemukiman padat penduduk. Untuk area tertentu hampir tidak ada yang namanya jalan setapak untuk lewat manusia. Jelek nya sih, sampe harus nginjek makam lain kalau terpaksanya bener-bener buntu. Meskipun area nya luas ( mungkin kalau jadi perumahan udah jadi beberapa cluster) tapi suasana serem ga di dapat sedikitpun karena pohon disana pun pohon ramping. Misal kamboja, mengkudu dan pohon-pohon sejenisnya.
Ebedewe, Kok kita jadi ngomongin makam sih?! Serem deh :-S
Setelah berziarah kami pun pulang, terkadang mengunjungi saudara dulu baru pulang ke rumah masing-masing dengan kegiatan masing-masing.
Itu memori lebaran kami. Kamu?