Monday, November 4, 2013 - 0 comments

Ara's First Field Trip

Halo.
Minggu lalu sekolah Ara mengadakan acara field trip. Dua objek tujuan nya adalah Gua Maria Talanging Sih yang terletak di daerah tegasari, semarang, dan kolam berenang semawis water park di daerah kedung mundu, semarang juga. Iyah, dalam kota ajah, kan masih balita.

Untuk acara bareng-bareng gini memang baru pertama kali di alami oleh Ara. Seminggu sebelum acara ara sudah sangat excited. Apalagi dia suka main di kolam, meskipun masih takut air, tambah lagi nanti mainnya sama temen-temen dan trainer TBB. Wiidiih, pasti asyik. Meskipun sebelumnya kami melakukan perjalanan jauh dari desa mengunjungi keluarga yang sedang berduka cita, tapi nggak bikin patah semangat untuk ikut outing.
Kami berangkat dari TBB sudah agak siang, harusnya di jadwalkan jam 08.00 tetapi mundur. Bukan, bukan karena peserta terlambat datang, untuk acara anak begini malah semua peserta tepat waktu lho. Jam berangkat mundur dikarenakan ada mobil orang tua yang ban nya kempes. Alhasil untuk beberapa kendaraan berangkat duluan, sedang sisa nya nunggu mobil tersebut dikembalikan, dan sebagainya. Malah ada beberapa keluarga yang sudah duluan menunggu di Gua Maria, jadinya mereka



harus menunggu lebih lama lagi. But wouldn’t complain any longer lah yaa, demi anak-anak, lagian sudah berlalu juga.


Sesampainya di Gua Maria kami berkumpul untuk berdoa, di pimpin oleh bu Cisca dan berkat perutusan oleh Suster. Ga lama-lama yes, karena matahari udah garang banget, karena acara selajutnya adalah berenang, makanya kami bergegas berangkat ke objek tujuan selanjutnya, kolam berenang.
Sesampainya disana anak-anak udah seneng ajah. Apalagi Ara, udah kepengennya ganti baju berenang. Hehe. Puji Tuhan meskipun panas nya kebangetan, acara berjalan lancar. Anak-anak seneng dan ga kecapekan, karena tempatnya ga jauh dan acara nya selesai sebelum jam 12 siang.

Will tell you another story, I’ll be back for blogging. 
Thursday, October 10, 2013 - 0 comments

Privat Privacy

Baru baca link ini. Iya, saya telat menyadari untuk menjaga privasi anak. Berawal dari kesukaan nulis di blog, berlanjut terseret arus media sosial, membuat saya suka mendokumentasi kegiatan keluarga, baik melalui tulisan, status, tweet, maupun foto. Sempet heran waktu ada teman-teman yang ber-statement untuk tidak meng-upload foto anak mereka di internet. Saya pernah berpikir begini : aduh masa mereka ga mau pamer foto bayi mereka yang lucu-lucu sih, pelit amat.
Setelah membaca link tersebut saya berpikir ulang untuk mengikuti jejak mereka, teman-teman yang pelit itu. Yang justru menjaga privasi anak mereka. Anak-anak kita memang belum punya kemampuan menolak atau menyetujui ketika kita dengan jumawa nya meng-upload foto mereka, justru itu lah yang harusnya menjadikan kita, orang tua,  untuk tau diri, ga seenak hati memamerkan moment-moment mereka untuk dipamerkan.
Lalu saya mulai menghapus album-album di facebook. Wow, banyak banget, dan beberapa foto itu mengingatkan pada moment tertentu. Seperti kata Ajahn Brahm :  Buat apa kita menyimpan foto-foto? Bukankah hidup selalu berubah? Mengapa anda entah kenapa ingin menangkap momen hidup ini dan membekukannya?

Well, saya bukan biksu. Belum bisa ga memfoto kegiatan anak saya. Ga cukup ratusan atau ribuan, saya selalu membekukan momen anak saya yang mungkin tidak terulang bersamaan dengan nya tumbuh dewasa. Tapi setidaknya saya nggak overshare semua momen yang kami miliki,  yang baik dan yang buruk, sampai ia sendiri yang berkeinginan membagi nya.
Friday, August 23, 2013 - 0 comments

cerita daycare lagi

Hallo again. Kita ngomongin daycare lagi ya.
Kemarin saya dapat undangan pernikahan dari salah satu ibu asuh Ara. Dari situ saya baru tau kalau beliau bergelar S.E. Saya sebenarnya juga tau kalau ibu-ibu yang kain juga berasal dari pendidikan yang tinggi. Disini saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pendidikan standar tidak menciptakan manusia yang lebih buruk lho. Well what i am trying to say is .. Dengan uang pas-pasan bisa nggak kita mendapat asisten rumah tangga yang berpendidikan universitas?
Mungkin itu satu dari sekian keunggulan daycare di banding asisten rumah tangga. Kebaikan lain yang kami rasakan adalah kami masih mendapat kedekatan yg sama dengan anak seperti sebelum kami titipkan. beda dengan asisten rumah tangga,apalgi yang stay all day di rumah, bisa di ajak gantian ngurus si kecil. tapi kalau hari di daycare selesai maka anak jadi tanggung jawab ortu nya lagi. mau secapek apapun ga peduli tetep nurutin kebutuhan anak. jangan di kira setelah ikut daycare ara jadi mandiri bisa ikut siapapun. justru malah sekarang apa-apa tetep mamah-bapak. nggak bakal bisa di titipin ke orang lain. lagian setelah weekdays apa kita tega pergi sendiri tanpa anak?
well..thats all in my opinion lho ya.
see u in another cerita ;-)

Tuesday, July 30, 2013 - 0 comments

Magic words for little one

Banyak cara untuk menanamkan hal baik kepada anak. saya ingin membagi nya disini. saya pernah menonton film The Help, dimana ada satu scene saat si pengasuh mengatakan hal-hal baik tentang si anak dan di lakukan berulang-ulang, meskipun anak tersebut bukan anak kandung nya tapi ia mencoba membangun karakter anak agar bertahan dalam suasana keluarga nya yang mengabaikan keberadaan nya.

sejak saat itu saya selalu membisikkan 4 hal kepada Ara sebelum ia tidur. bahwa kakak Ara itu Baik, kakak Ara itu Cantik, kakak Ara itu pintar, dan kakak Ara itu penting.

Baik,agar ia menjadi manusia yang manusiawi. Cantik, agar ia merasa percaya diri. Pintar, tentunya pandai dalam segala hal. dan Penting, agar ia merasa di hargai dan kehadiran nya di dunia ini bukan tanpa alasan.

dulu waktu saya memulai mengatakan magic words itu Ara belum paham. setelah paham pun ada fase dia tidak mau mendengarkan. tapi sekarang menginjak usia 3,5 tahun ia merasa punya moment menjadi anak tersayang mama bila saya mengatakan 4 kata diatas. ia bahkan sudah hapal bila mama mendaraskan kata ajaib :
(kakak itu Ba...)..ik, (kakak itu can..)..tik, (kakak itu pin..)..tar, (kakak itu pen..)..ting! ( ilove you sayang), i love you mommy.

what a wonderfull world.

saya belum tau dampak nya bagi masa depan Ara, tapi harapan dalam kata-kata mama adalah doa bukan. ayo mulai katakan hal-hal bagus mengenai si kecil anda.

Sunday, July 21, 2013 - 0 comments

Quote for daughter

"Apapun yang kau lakukan, kau tidak harus pergi ke gereja setiap hari atau setiap minggu. Sepanjang kau bisa meletakkan kepala di bantal di malam hari dan tidak menyesali hal-hal yang sudah kau lakukan seharian, berarti kau telah menjadi kristen yang baik..
Jika kau menyesal, jangan lakukan itu lagi"
Omi, Little girl lost, hal. 23

Monday, July 15, 2013 - , , 1 comments

Tentang Daycare

Untuk beberapa orang tua bekerja menitipkan anak ke pengasuhan orang lain adalah hal yang teramat sangat berat. Kenapa saya katakan beberapa? karena ada yang masih punya orang tua a.k.a kakek nenek yang bisa di titipin. Tentunya nggak seberat kalau di asuh oleh orang lain dong. For some reasons orang tua lain terpaksa menitipkan anak nya ke berbagai macam alternativ pengasuhan anak. Itu tergantung pemikiran dan keadaan masing-masing keluarga.
Untuk kami yang tidak bisa menitipkan anak ke orang tua/saudara maka pilihan nya hanya dua : asisten rumah tangga atau daycare. Pilihan jatuh di nomor dua. Awalnya saya nggak tega, apalagi kami masih menggunakan kendaraan bermotor dua sebagai alat transportasi. Kalau hujan pas dia pulang duh ngerasa bersalah banget. Selain alasan itu sih semua oke oke saja. Baiklah saya akan berbagi pengalaman soal ini.
Memilih daycare itu kayak cari soulmate. Begitu banyak syarat yang harus dipenuhi. Apalagi buat anak nggak boleh coba-coba ya.. Meskipun nggak ada yang sempurna paling enggak beberapa prinsip utama dipenuhi oleh daycare yang kita pilih.
Pertama kami mencari daycare di daerah tempat kerja saya yang kebetulan dekat rumah juga. Tentu dengan alasan nanti dekat kalau menjemput. Anak juga tidak terlalu jauh di perjalanan. Di daerah itu memang terdapat satu daycare yang sangat sesuai dengan kebutuhan dekat yang kami pikirkan tadi. Cukup 5 menit dari tempat kerja saya dan 10-15 menit jaraknya dari rumah. Sangat ideal. Tetapi ketika kami survey ada beberapa hal yang menurut kami tidak sesuai. Daycare tersebut bisa di bilang baru berdiri. Letaknya di sebuah rumah toko dua lantai. Saya nggak bermaksud menceritakan hal buruk atau sebagainya, saya memaklumi sebagai usaha baru di butuhkan banyak modal, tapi sayang fasilitasnya minim sekali. Dengan interior minimalis maka kondisi nya terlihat agak kumuh, lagipula hanya terdapat dua bed disana. Satu di lantai bawah dan satu lagi dilantai atas untuk anak yang usianya diatas 3 tahun. It means mereka berbagi bed dengan anak lain. Emang double bed gitu bisa buat berapa anak sih? Untuk usia 3-4 tahun mungkin hanya muat 4 anak. Sedangkan yang bawah buat anak di bawah 3 tahun, they also should share the bed? Selain masalah tempat, jumlah pengasuh juga jadi pertimbangan kami. Dengan 2 pengasuh saya nggak yakin anak saya di-handle dengan baik. Kalau untuk guru sih nggak masalah ya handle 20 anak sekaligus, tapi ini kan pengasuhan dari pagi sampai sore. Apalagi kekhatawiran kami karena baru pertama menitipkan anak ke orang lain. Bisa-bisa anak saya dicuekin nih, begitu pikir saya waktu itu. Hal terakhir yang mengurungkan niat kami memilih daycare tersebut adalah tempat nya yang berupa ruko. Anak akan naik tangga sendiri, belum lagi depan ruko langsung tempat parkir. Bisa-bisa dia lari keluar tanpa ada yang mengetahui bisa gawat. Cukup kan ya alasan-alasan itu.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke daycare lama. Mengapa kami sebut 'lama' dikarenakan persis setahun lalu saya pernah survey tempat ini. Sebenarnya kami sudah sangat sreg dengan daycare tersebut hanya saja setelah survey saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi jadinya batal menitipkan Ara disana. Yang jadi pertimbangan kami sebenarnya adalah letaknya yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Sekitar 30 menit bila lalu lintas lancar. Tapi suami membantu dengan mengatakan apakah kita merasa aman meninggalkan anak 8 jam dengan pengasuhan seadanya meskipun dekat dengan dengan rumah, atau mempercayakan pada ahli nya walaupun jaraknya jauh. Toh selama perjalanan Ara juga baik-baik saja. Meskipun ragu pada awalnya tapi akhirnya saya memutuskan untuk percaya.
Tempat penitipan Ara ini bernama Eduard Michelis. Di bawah yayasan sosial Soegijapranata. Memang yayasan Katolik. Tapi itu bukan satu-satunya alasan kami. Bangunan sekolah Ara menempati bangunan paling belakang. Seperti layaknya bangunan yang dimiliki yayasan katolik lain, kawasan Eduard micelis ini juga mempunyai bangunan yang heboh besar, luas, dan rindangnya. Kenapa saya katakan kawasan, karena Eduard michelis di kelilingi oleh bentuk pelayanan lain di sekitarnya.  Seperti Balai Pengobatan di bagian depan, Rumah bersalin di bagian tengah, panti Wreda untuk suster di bagian belakang, jadi untuk masalah keamanan pasti terjamin. Tidak langsung menuju jalan besar dan orang asing pun langsung tersaring.
Untuk tempat sudah tersolusikan, hal penting lain adalah pelayanan kepada anak asuh. Bagi anak yang berangkat dari asuhan ibu, seperti Ara, susah sekali untuk berganti ke pengasuhan orang lain. Di harapkan dari daycare menawarkan satu ibu asuh yang menjadi pusat perhatian anak. Meskipun nantinya ketika anak mulai memahami situasi ia harus berbagi ibu asuh tersebut dengan teman  teman nya. Itu sudah tersolusikan di daycare Ara dengan kehadiran bu Emi. Pada awal hari nya di daycare hanya bu Emi lah yang di cari Ara. Hanya dengan bu Emi ia merasa aman. Meskipun ia kemudian bercerita saat makan dan mandi di asuh oleh ibu yang lain, tapi saat pertama tiba di sekolah ia tau harus menuju ke siapa.
Sedikit berbagi pengalaman kami yang tidak mudah menjalani semua ini. Inginnya mama di rumah jagain Ara sampai besar. Tapi karena tuntutan kebutuhan hidup maka saya harus keluar rumah mencari pendapatan. Hari pertama Ara berada di daycare saya merasa bersalah sekali. Pengen nangis, makan siang nggak enak, ingin nya cepet sore biar ketemu anak. Tapi hati di besarkan dengan pemikiran tentang konsekuensi dan dasar keputusan ini di buat. Apalagi tiap bangun tidur Ara selalu nangis karena nggak mau sekoyah. Kami memberi tau Ara alasan mengapa mama harus kerja. Namanya juga bayi, sulit bagi nya untuk memahami. Bahwa mama bekerja agar mendapat uang. Uang di gunakan untuk membantu bapak memenuhi kebutuhan hidup kami. Buat maem, buat sekolah, termasuk beli mainan. Butuh waktu sekitar 3 minggu untuk nya mengerti penjelasan kami. Ketika diberi pilihan bahwa mama di rumah tapi nggak bisa belikan mainan dia menolak. Mungkin dia merasa dilema, tapi begitulah kami mengajarinya memilih.
Dari susah bangun sampai akhirnya mau bangun. Dari bangun nangis sampai akhirnya bangun nggak nangis. Dari nggak mau mandi sampai akhirnya mau mandi walaupun nangis. Dari mandi nangis sampai mandi nggak nangis. Dari sampai sekolah teriak-teriak minta pulang sampai cuma nangis di pangkuan bu Emi. Dari nggak mau ngomongin sekolah kalau di tanya sampai bercerita semua kejadian di sekolah.
Butuh waktu sekitar 7 minggu untuk kami menjalani proses. Terkadang ketika orang mengatakan bahwa semua itu proses, hati kecil kami ingin berteriak. bu sisca  juga membesarkan hati kami mengenai proses yang tiap anak harus jalani. meski kami bertanya sampai kapan proses ini, bagaimana proses orang lain, mengapa proses kami berbeda, sampai muncul pertanyaan mengapa harus ber-proses?? Tapi memang proses lah yang mendewasakan manusia. Bila waktu menyembuhkan luka, maka waktu pula mengajari kita bagaimana harus bersabar dan mengalami.
Hari ini adalah minggu ke delapan. Bangun tidur Ara sudah terenyum. Sambil bertanya "Bapak mau kemana?", "Bapak mau kerja" jawab bapaknya. Lalu ia bertanya lagi "kalau kakak?", jawab si bapak "ya kakak sekolah dong". Lalu tersenyum lah Ara sambil bilang "ah nanti mau bilang bu Emi kacamata bayu ku". Sampai di sekolah ia pun langsung mencari bu Emi, menunjukkan kacamata baru nya, mencium kami dengan suka cita dan melambaikan tangan dengan tersenyum. (/ ^^)/
Well, life..
Terimakasih Tuhan Yesus, bunda Maria, bapa Eduard Michelis, dan tentu ibu-ibu pengasuh Ara. we love you.
#untuk cerita lain ttg daycare will post later yah :-D
ini foto Ara pulang sekolah. wangi ceria dan bahagia..
Thursday, May 16, 2013 - 0 comments

Dolphin oh no

Post for 18-03-2013

Minggu lalu kita nonton lumba-lumba lagi. Well semoga ini yang terakhir. Gara-gara nya suami janjian sama temen-temen kantor buat nonton lumba-lumba buat nyenengin anak masing-masing.
Sebelumnya saya udah ngajak sodara dan temen buat nemenin saya, secara saya nggak begitu enjoy kalau hang out sama temen suami. Tapi sodara nolak karena panasnya naudubilah, kan soalnya pentas lumba-lumba keliling, tau sendiri gimana kondisinya, apalagi bawa balita. Kalau temen jelas nggak mau, anaknya baru umur dua bulan. Hihi.
Akhirnya kami berangkat juga. Biar anak rekreasi, meski tempat tujuan nya nggak jelas gitu. Saya sebenernya nggak suka sama pentas lumba-lumba. Secara pribadi saya mikir kenapa sih mereka musti terpilih buat menjalani hidup seperti ini. Terpisah dari keluarga dan habitat nya. Karena kecerdasan mereka dipergunakan untuk kepentingan hiburan semata. Apalagi selain pertunjukan lumba-lumba ada pertunjukan hewan lain, biasanya berang-berang, burung kakak tua, dan beruang madu.
Apalagi setelah saya baca kampanye anti pentas lumba-lumba yang saya lihat dari tweet nya Riyani djangkaru. Saya juga pernah lihat di kompastv waktu choky netral diwawancarai soal itu. Lumba-lumba adalah hewan yang menggunakan sonar untuk berkomunikasi dengan sesama nya di laut lepas. Kalau dia hidup di lingkungan terbatas kemungkinan sinyal sonar itu hilang. Mau komunikasi sama siapa dia? Itu baru satu hal betapa tidak berkembang secara alaminya jika hewan tidak berada di habitat nya. Belum lagi kalau lihat berang-berang main bola voli atau beruang madu naik sepeda. Kenapa kita nggak nonton badut aja sih?
Saya juga nggak setuju sama yang namanya kebun binatang. Buat apa sih manusia menangkar hewan-hewan liar Cuma buat di lihat? Edukasi? Anak bisa lihat lewat gambar, sekarang juga udah canggih kan dengan nge-shoot pakai robot bagaimana kehidupan hewan liar misal kayak di Afrika, tanpa mereka terganggu dengan hadirnya manusia. Itu gunanya para photografer wild life, buat mencari gambar makhluk-makhluk lain di luar kehidupan peradaban manusia. Cukup kita tau bagaimana bentuk harimau dan cara hidup mereka dari discovery chanel. Kalau habitat mereka nggak diganggu gugat mereka akan bertahan. Seperti misal nasib orang utan di kalimantan. Mereka butuh sembunyi di hutan untuk hidup. Kita nggak harus tau muka mereka kan? Siapa yang mengharuskan coba? Well, its all my humble personal opinion.
We are the real planet earths virus.
Akhirnya saya berhasil bilang sama suami, kalau semoga ini terakhir kita nonton pentas lumba-lumba. Dengan membeli tiket berarti kita membantu pengusaha pentas lumba-lumba buat bertahan. Saya juga bilang sama anak kalau seharusnya lumba-lumba tidak tinggal di kolam, tetapi di laut. Juga beruang madu dan berang-berang, they deserve the wild. Dia sih manggut-manggut, biar masih 3 tahun, saya harap saya menanamkan hal manusiawi dan alami ke dalam hati si kecil yang masih murni.

- 0 comments

Kids movie

Beberapa waktu lalu kakak ipar saya menjanjikan sesuatu kepada Ara. Katanya di rumah ia punya barbie. Lalu ketika ada kesempatan ketemu diberikan lah mainan yang di janjikan nya itu kepada Ara. Badala, it wasnt barbie. Ternyata yang di kasih itu mainan bongkar pasang dengan karakter disney princess, snow white dan cinderella. Its not even close to any barbie in the world. Can you see the similiarity? Barbie? Disney princess? *sigh*
Mungkin di luar sana banyak orang tua seperti kakak ipar saya itu. Mereka tidak update karakter kartoon anak atau mainan-mainan anak atau bahkan hal-hal yang sedang trend di kalangan anak-anak. Theyre just too busy making money for their kids, but they just dont care at all about what makes their kids happy. Their own kids especially, all the kids in the world generally.
I love watching movies, so does my kid. Or i just can say that i whose introduce movies to her. Saya memang yang memilihkan tontonan buat anak saya, meskipun itu terlihat arogan, karena saya memilih apa yang akan di tonton anak menurut baik buruknya dari segi pandang saya saja. Karena kami tidak berlangganan tv kabel yang menyediakan channel khusus anak dan bayi maka kami membelikan Ara cd. Pada masa bulan-bulan pertama Ara kami menggempurnya dengan tumpukan vcd baby einsten. Kata nya sih bisa bikin anak cerdas, wether true or wrong, yang jelas ia terhibur. Menginjak masa yang lebih kompleks kami mengenalkannya dengan Barney. It worked well. Barney memang di rancang untuk usia 1 tahun ke atas. Gerakan di film seri barney lambat, mempermudah anak untuk mengikuti jalan cerita tanpa terburu-buru. Selain itu Barney penuh dengan nyanyian. Kiddos love singing and dancing right? Selain itu kita juga belajar banyak tentang lagu-lagu anak. Selain Barney kami juga memberikan nya Telletubbies dan Pocoyo.
Setelah berabad-abad televisi kami di jajah Barney and friends, kami sekarang mengalami sebuah revolusi. Sekarang televisi kami di sabotase Strawberry shortcake dan Dora the explorer. Kemajuan kan? Selain itu kami juga memperkenalkan Ara pada Mickey mouse, Doc Mcstuffin, Frosty the snowman, dan beberapa serial lain yang menarik. Ara nggak suka thomas, the cars, atau robot-robot. Well, yes, Ara is a girl off course.
Suatu hari keponakan main ke rumah, celana nya bergambar baby bop, teman Barney. Waktu itu Ara bilang mah, baby bop, sang sepupu menjawab bukan, itu barney!, kemudian si ibu menegaskan ya, itu barney. Oh god, dinosaurus perempuan  hijau itu adalah baby bop, please. Lalu suami saya nimbrung ya, itu baby bop. Dalam rangka membela anak kami, dan mengutakan kebenaran ke penjuru dunia. And that sister in law just didnt care. Why she didnt care? I just dont get her. pada suatu ketika yang lain, sepupu suami main ke rumah. Ia seumuran dengan saya, anak nya pun Cuma beda 3 bulan dari Ara. Waktu tanya soal film kesukaan ara menyebut strawberry shortcake, secara mengejutkan si tante pun menyanyi lagu soundtrack strawberry shortcake. Oh how i love her. meskipun anak nya cowok tapi nggak membuat dia nggak ngerti soal  film anak cewek. Thats what cancer does, we love our family. Toss ya maaak. *lhoh?*
Yes, i loove watching movies. Not only in genres that i like to watch, but also what my kid watchs. Mengapa kadang kita merasa terlalu tua dan bijaksana untuk ikut menonton apa yang di tonton anak? Mengapa dengan menyerahkan anak kepada tontonan nya membuat kita leluasa meninggalkannya dengan segala kesibukan kita yang lebih penting? mengapa oh mengapa? bukan nya sombong ya, saya hanya menemani anak saya nonton film nya. saya mengetahui apa saja cd yang anak saya koleksi. Saya tau judul mana yang mengandung cerita apa. Saya tau scene mana yang anak saya ingin tonton berulang-ulang. Saya ngerti semua lagu dalam film-film anak saya. Well, nggak semua hapal, kadang beberapa saya Cuma bisa nada nya. Bahkan suami saya harus nanya dulu, ma, mana ini strawberry kutek-kutek?.  title menu, nomor dua dari bawah, judulnya yang glittery, kamu cepetin sampe sini, terus balik lagi sebentar sampai episode yang pertama selesai. Yes, saya penguasa remote control.
Apa mungkin karena saya ibu rumah tangga jadi saya bisa leluasa nonton film? Nggak juga. Waktu saya kerja pun ketika sore hari anak saya nonton film nya saya ikut nemenin. Meskipun pikiran kita terbebani dengan wah cucian banyak, capek banget dan lain-lain, tapi sedikit mungkin saya berusaha menemani anak nonton.  Pernah suatu masa ketika saya sibuk ini itu, saya nggak ikut nonton serial barney baru yang di tonton Ara. Saya ketinggalan jauh. Sampai waktu anak saya minta yang bagian ini itu saya nggak tau, buta sama sekali. Saya merasa bersalah,si anak marah-marah, porak porandah. Mungkin ini susah nya membagi pikiran ketika ngurusin anak. They ask you your whole body and mind. Nggak bisa setengah-setengah. Bagi para ibu bekerja, luangkan lah waktu untuk duduk santai menonton bersama anak. Lupakan ini itu yang harus dikerjakan. Just be present. Untuk ibu rumah tangga, mak nyuci nya nanti aja waktu anak tidur.
Kalau kita menyerahkan tontonan kepada anak maka akan sulit bagi nya mencerna bagian tertentu yang tidak ia mengerti. Ia juga belum tentu nangkep maksud film kalau bukan kita yang menjelaskan. Kalau kita nggak ngerti karakter dalam film yang ia tonton kepada siapa ia bisa bertanya. Apalagi balita kan belum bisa baca. Contoh nya film strawberry shortcake, ia punya banyak karakter. Apalagi nama-namanya hampir sama. Perpaduan nama buah dan kue. Hampir sama dengan aturan membaca buku untuk anak, kita di harapkan membaca dulu untuk mengetahui isinya sebelum di bacakan kepada anak kan? Begitu juga dengan film. Kalau bukan kita, Kepada siapa anak bertanya beda nya raspberry dan strawberry? Mereka sama-sama punya rambut berwarna merah. ma, angel cake itu suka nya mayah-mayah ya ma, kata ara suatu ketika. iya, jangan suka marah kalau main, nanti ndak punya temen, harus smile dan happy biar temen nya banyak. Angel cake di suatu episode bersikap sangat tidak sportif, tiap kali ia tidak bisa menangkap bola ia marah kepada teman-teman nya. How do you know if you dont watch the movie? Thank me i did.
Menemani anak nonton filmnya nggak harus di lakukan tiap saat kok. Anda cukup menonton nya sekali dua kali. Tonton dengan seksama sehingga anda tau isi film, nama karakter, barang-barang apa yang di gunakan, dan apa pesan moralnya. Barang-barang?? Jaga-jaga kalau si anak tanya ma, yang di pakai orange blossom tadi apa namanya?. Nah lo. Setidaknya anda tau dunia anak anda, and you wont get lost.
Menonton film anak bukan berarti anda kehilangan waktu efektif. Menjadi kanak-kanak lagi itu bukan dosa. Lagi pula nggak ada yang menuntut kita selalu dewasa. Be with your kids, and be a kid again and again, its just fun.

Wednesday, May 15, 2013 - 0 comments

Librari-lover

Saya tiba-tiba kangen sama perpustakaan. Well,i was a library maniac. Dulu sewaktu masih nomaden, young, single and available, saya nggak pernah nggak punya library member card.
Semua berawal dari perpustakaan esema. Disana saya pertama  kali bertemu trilogi genduk duku-lusi lindri-roro mendut. Disitu lah pertama kali saya merasa euforia mendapat akses gratis ke berbagai macam jendela dunia. Saya juga ingat dulu ketika kelas tiga esema saya sering pulang sendiri. Kalau berjalan memutar melewati perempatan alun-alun saya akan melewati perpustakaan daerah. Awalnya saya agak takut dengan bangunan nya yang tua. Gedung mana sih yang ga tua kalau di kelola pemerintah?  Ternyata setelah memasuki bangunan dalam nya saya merasa menikmati suasana homy sebuah perpustakaan. Dont judge a library from its building. Haha. Penjaga perpustakaan nya pun ramah.  Suasana nya nyaman dan dingin. Peminat nya pun lumayan banyak. Kebanyakan memang para pelajar, dari usia sekolah dasar sampai sekolah menengah umum seeprti saya waktu itu. Setelah buku perpustakaan sekolah tidak lagi menarik maka kesini lah saya mampir sepulang sekolah. Hanya bermodalkan kartu pelajar saya sudah mengantongi kartu anggota. Buku-buku nya pun lumayan lengkap untuk ukuran perpustakaan daerah. It is a great memory.
Setelah kuliah saya diperkenalkan dengan perpustakaan wilayah oleh teman-teman kampus. Sebagai anak baru di kota tentu saya takjub dengan koleksi buku yang perpustakaan wilayah (perwil) punya, dibanding dengan perpustakaan sekolah dan daerah di kota kecil saya. Saya merasa beruntung sekali. Apa sih yang ngalahin bau harum buku-buku yang berjejer rapi di rak? It was my little heaven. Untuk beberapa periode disana lah saya menghabiskan waktu.
Setelah bekerja nyambi kuliah ( kebalik nggak sih? ) saya jarang sekali membaca buku. Itu mungkin dikarenakan saya bekerja di seputar internet. Selain itu keinginan mempunyai buku lebih besar di banding meminjam. Karena tempat kerja saya di tengah pusat kota maka akses menuju toko buku pun gampang. Dari toko Gunung agung, gramedia, sampai merbabu. Saya mulai membeli buku. Tidak lagi meminjam. Lagi pula jarak tempat saya kerja-rumah dengan perpustakaan wilayah lumayan jauh. Jadilah saya mulai menjauhi perpustakaan. Apalagi setelah saya lulus kuliah, otomatis saya nggak punya KTM lagi. Makin susah jadi member perwil. Harus dapat surat RT/ instansi tempat kerja. Repot ya. Apalagi semakin menua makin malas lama-lama baca. Lebih baik lama-lama bergaul. Hiyahh.
Sekitar tahun 2008 saya mengeluarkan diri dari tempat kerja yang nyambi kuliah tadi. Berhubung kakak saya menyewa rumah agak jauh dari pusat kota jadi nya saya agak malas keluar-keluar. Saya lupa entah dari mana mendapat informasi tentang perpustakaan daerah di daerah itu, yang jelas saya udah nyasar aja kesana. Hehe. Apalagi bangunan itu tidak bertuliskan perpustakaan daerah melainkan instansi pemerintah lain yang saya lupa apa itu. Pokoknya disana kerinduan saya akan akses buku murah pun terobati. Hanya membayar biaya pendaftaran sekitar Rp. 10.000,- saya bisa meminjam buku sesuka hati saya. Jangan salah lho menilai perpustakaan daerah disana, meskipun nggak lengkap banget tapi saya bisa menemukan Paulo Coelho. Keren kan?
Setelah menikah maka dapat di tebak bahwa saya tidak lagi mengakses buku-buku. Anda benar, tapi juga sedikit salah. Haha. Setelah menikah saya bersama suami tinggal di daerah kota. Tapi tidak lantas saya mendaftar kan diri jadi anggota perwil lagi. Karena saat itu saya bekerja maka saya tidak punya waktu luang tengah hari untuk melakukan transaksi pinjam meminjam di perwil. Tapi saya tidak kalah akal, saya mendaftar penyewaan buku komersial. Well, bisa di bilang mahal sih, tapi kalau ga pegang buku rasanya gimana gitu ya. Meskipun di persewaan buku itu kebanyakan hanya novel dan buku fiksi tapi itu tidak mengurungkan niat saya. Kadang nyempil buku bagus diantara tumpukan buku nggak menarik, kan?
Masa-masa awal punya anak diwarnai dengan kesibukan. Maka untuk masalah buku vakum dulu. Yang sering di baca hanya sumber-sumber tumbuh kembang anak. Tapi setelah anak menginjak 1 tahun rasa rindu membaca itu datang lagi. Kebetulan di tempat baru itu ada persewaan buku juga. Agak mahal sih kalau di hitung-hitung tapi persewaan buku ini lumayan bagus juga. Buku-buku nya pun nggak main-main. Bayangkan, di persewaan buku yang kebanyakan koleksinya adalah komik kita bisa menemukan buku berat nya Karen Armstrong. I was a lucky girl.
Sekarang, di tempat tinggal baru ini saya seperti terbuang jauh ke masa purba. Tidak ada perpustakaan, tidak ada persewaan buku, jauh dari toko buku, jobless-which mean i can not spend money that i am not earn-, i am totally lonesome.
Thats why how i miss spending time all day long dlosoran in the library. I miss those times. Bau buku di rak, suasana orang-orang yang nutupin buku-buku yang mau kita lihat, atau rebutan mau ngambil buku yang sama. Saya Cuma bisa berharap nanti kalau anak saya sudah cukup besar saya bisa mengajari nya mencintai (and dying for) perpustakaan. Like i was, and i am still.

Sunday, April 28, 2013 - 0 comments

Anak lagi?

Yah..si babe udah mimpi punya bayi laki-laki lagi. Hehe. We really want to have another baby. Tapi....

Thursday, February 14, 2013 - 0 comments

Dilema nya jadi Ibu jaman sekarang


Betapa dilematis nya menjadi perempuan kebanyakan di jaman modern ini. Anda tidak dapat merengkuh dua pilihan dalam kehidupan mengenai anak anda. Anda hanya boleh memilih satu, dengan berbagai macam konkuensi. Wanita pekerja atau ibu rumah tangga. Kalau di jaman dulu, dengan psikologi orang jawa, wanita hanya punya satu pilihan. Menjadi ibu rumah tangga dan semua orang memakluminya. Kalau pun beberes rumah dan nganter makan suami di sawah sih sudah kewajiban ya. Maksud saya disini, perempuan jaman itu tidak di tuntut oleh perkembangan jaman. Kebutuhan informasi, perkembangan pemikiran dan kemampuan, serta berbagai macam tetek bengek emansipasi. Well, i am not trying to say that is a bad thing, tapi kebutuhan cara pandang dan pemikiran membuatnya tidak se-sederhana jaman dulu.
Saturday, September 22, 2012 - 0 comments

Saat melahirkan


Just got this list from www.bidankita.com. Sebenernya ini list untuk  pengalaman melahirkan, tapi boleh juga bagi para bumil sebagai referensi untuk memilih rumah sakit terbaik, sebagai persembahan untuk ibu dan si buah hati. Less trauma more happiness.
1.       Kalau di RS/RB besar, boleh ga melahirkan dg posisi sesuka klien? Jongkok, nungging duduk, merangkak, bahkan berdiri? #gentlebirth
2.       Kalau di RSt/RB besar, boleh ga lampunya diredupin? #gentlebirth
3.       Kalau di RS/RB besar, boleh ga suami dan ibu menemani hingga proses melahirkan selesai? #gentlebirth
4.       Kalau di RS/RB besar, boleh suami/ si kakak menyaksikan proses persalinan? #gentlebirth
5.       Saat anda melahirkan dulu boleh gak makan minum sesuka nya #gentlebirth
6.       Saat anda melahirkan dulu, didampingi pakai hypnobirthing tidak sama bidan/perawatnya #gentlebirth
7.       Saat anda melahirkan dulu apakah suasanya hommy dan bikin betah? #gentlebirth
8.       Saat anda melahirkan dulu bidan dan perawatnya ramah tamah dan sangat menenangkan tidak ya? #gentlebirth
9.       Saat anda melahirkan dulu begitu bayi lahir IMD atau segera dipisahkan dg ibu? #gentlebirth
10.   Saat anda melahirkan dulu apakah suasana nya indah, menyenangkan bahkan romantis? #gentlebirth
11.   Saat anda melahirkan dulu boleh apakah privasi anda di jaga? #gentlebirth
12.   Saat anda melahirkan dulu ketika anda ada rasa ingin mengejan apakah bidan/dokter/perawatnya ngasih aba-aba #gentlebirth
13.   Saat anda melahirkan dulu boleh tidak anda minta disetelin musik  klasik, relaksasi, atau musik yang anda suka? #gentlebirth
14.   Saat anda melahirkan dulu apakah anda dan suami bisa leluasa saling bermesraan, berciuman juga? #gentlebirth
15.   Saat proses persalinan selama nunggu pembukaan lengka, apakah bu bidannya mau mijeti dan meluk anda saat and kesakitan? #gentlebirth
16.   Saat bayi lahir bagaimana tingkah laku bidan dalam memperlakukan bayi anda?
17.   Saat persalinan dulu kalau tiba-tiba di saat mengejan anda ingin berubah posisi bahkan pindah tempat
18.   Apakah dulu setelah melahirkan diterapkan rooming in di persalinan anda? Bahkan sharing be dengan bayi?
19.   Berbicara tentang privasi, pernah enggak saat melahirkan dulu anda malah dipakai bahan praktek
20.   Saat melahirkan dulu apakah pakai mengejan kuat atau cukup nafas (tanpa mengejan) ?
21.   Saat kepala bayi crowning (keluar sebagian dari vagina) boleh ga tangan anda memegang kepala bayi?
22.   Jika dirasa banyak trauma, mulai lah healing.



- 0 comments

In law


Menikah memang tidak menjadikan kehidupan sederhana. Sebaliknya malah memperumitnya. Ini bukan hanya masalah menyatukan dua tubuh,jiwa dan pemikiran ke dalam sesuatu yang bernama kompromi, tapi juga belajar-selama waktu yang tidak dapat ditentukan- berkompromi pada anggota-anggota keluarga baru. Ingat, mereka bukan saudara tapi terpaksa menjadi saudara.
Istilah, bila kau menikah maka kau juga menikahi keluarga calon pasangan mu, itu benar adanya, dan tidak mudah di praktekkan. Kecuali suami/istri anda adalah anak tunggal yatim piatu dan orang tua nya juga merupakan anak tunggal dari pasangan anak tunggal. There will be brothers and sisters in law. In Law, secara hukum. Sudara yang terjadi berdasarkan hukum negara/ adat istiadat/ budaya. If you can not accpet them, you’ll die. Sooner or later, body and soul.
Beberapa teman yang baru menikah mengisahkan hal ini. Cerita tentang saudara ipar yang bawel dan merepotkan, cerita tentang mertua yang pilih kasih, serta cerita pasangan yang ternyata anak mami. Newly wed seems happy couple, tapi mereka ga sadar kalau menikah  itu bukan tutup buku setelah kalimat happily ever after. Yang tutup adalah buku menjadi bujang. Tapi anda menulis cerita baru dalam buku baru, baru kata pengantar sudah banyak tantangan. Apakah Bab I juga demikian. You decide.
I’ll share lil bit mine. Dalam bagian Kata pengantar saya sudah mengalami banyak tantangan. Then i know it won’t be over. Jelek kata, ipar/mertua yang ga bisa cocok sama kita itu ibarat penyakit ganas di tubuh kita. if it can not be healed so we should live with it. Survive, that is the answer. Mereka sudah begitu jauh sebelum kita kenal mereka. Kita nggak bisa nyuruh mereka berubah seperti yang kita inginkan dalam jangka waktu sebentar. They can not change, and so are you. Compromise.
Wajar sih ya kalau ada kesempatan ketemu pengennya berantem aja, atau kalau bisa nggak usah ketemu sekalian. Yang kedua ini ga mungkin dong ya. Soalnya kita punya hari raya yang harus di rayakan keluarga besar. Satu-satunya cara adalah, survive. Kalau saya orangnya seperti gunung berapi yang masih aktif. Sepertinya kalem, tapi gejolak amarah dalam diri saya begitu besar. Daripada cari ribut, saya memilih diam. Awalnya saya bisa berpura-pura, mau di ketusin saya diem, mau di jelek-jelekin saya diem, lama-lama saya nggak bisa membiarkan orang lain berlaku seolah saya mengijinkan mereka nge-bully saya. Biasanya saya menghindar. Tempat paling aman adalah ngedeketin mertua. Satu-satunya orang di keluarga suami yang ga mungkin mencobai saya.
Bila pada sebuah masa mereka akan baik, jangan takut, karena suatu saat mereka akan kejam juga. Jadi, kalau sekarang mereka kejam, pasti suatu saat akan baik. Kalau kita punya kesadaran bahwa pada hakikatnya kita berasal dari rahim yang sama, semua konflik jadi sedikit berkurang bobot penderitaannya. Take it or leave it, that easy. Kalau hidup Cuma sekali kita nggak banyak butuh drama.
In law things? It just one chapter, we still have another happy chapter in our marriage book.
Thursday, September 20, 2012 - 0 comments

Dear daughter


Dear daughter,
Suatu saat kamu akan menemukan bahwa cinta tidak semudah yang kita lihat di film atau kita baca di novel Harlequin. Hal itu semakin rumit jika cinta berhadapan dengan pernikahan. Aku berharap 25 tahun dari sekarang semua norma tentang pernikahan yang baik atau tidak baik sudah di hapus dari muka bumi ini, sehingga apa yang aku akan sampaikan sekarang sudah tidak relevan lagi. Bahagia untukmu.
Bagi beberapa orang yang beruntung, mereka akan menikahi orang yang mereka cintai. Itu juga kalau tidak dalam 5 atau 10 tahun kemudian cinta bertranformasi ke dalam bentuk yang lain. Eternal flame? Itu jika ketersediaan gas dalam bumi mencukupi, sehingga udara yang bergesekan bisa membentuk (seolah) api abadi. Abadi menurut siapa? Menurut usia kita? Belum tentu menurut usia anak cucu. Demikian pula cinta, atau semacamnya. Cinta di awal pernikahan yang menggebu bisa meredup ketika berhadapan dengan realita kehidupan. Belum tentu orang yang kita cintai setengah mati bisa menjadi rekan hidup. Ada kala nya mereka mengekang, ada kala nya ada sesuatu dalam diri kita yang hilang, itu mengakibatkan perasaan menjadi mengambang, bimbang, kemudian cinta hilang. Tapi ada beberapa yang pandai menyesuaikan diri, jika cinta berubah wujud mereka pun menyiapkan wadah baru untuk menampung wujud yang baru. Terus menerus. Selama sisa hidup mereka. Ketika lelah, mereka berpisah. Lalu melanjutkan siklus yang sama, hanya dengan orang yang berbeda. Sampai mereka mati.

Untuk sebagian orang lagi, mereka ditakdirkan menikahi sahabat mereka. Bagusnya dibanding dengan cinta yang bicara, ketika kita tidak sepaham itu tidak terlalu menyakitkan. Karena sahabat sudah terlatih menghadapi kita. Semua berjalan mulus, sedikit kerikil itu biasa, tapi tetap bisa sejalan bergandeng tangan. Jangan bicara rasa, toh cinta tidak selalu sempurna. Untuk kasus seperti ini, kau harus siap dengan segala konsekuensi. Ada saatnya kau akan bertemu dengan orang yang membuat hati mu serasa di pukul palu bertalu-talu. Memar, bengkak, tapi tidak sampai pecah. Sehingga pahit dan ngilu nya hanya kau yang tau. Lalu kau melihat suami mu. Ternyata menikah dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Jika kau bijak maka kau akan tahu, bahwa tahapan perasaan yang kau rasakan kepada suami mu bisa saja lebih tinggi di banding dengan cinta palu-mu. Kau memang tidak merasakan apa pun, tapi apa yang dibutuhkan lagi jika semua sudah terpenuhi? Sedang cinta palu-mu itu, lupakan. Waktu akan menyembuhkan luka bekas operasi, apalagi kalau Cuma memar dalam hati. Kalau kau berani, berpisahlah dengan suami mu. Kejar orang yang membawa palu itu, lalu kau mengalami yang pertama aku ceritakan tadi.

Untuk sisa nya, mereka menikahi bukan siapa-siapa. Mungkin di jodohkan, siapa tahu? Atau mereka mabuk ketika mengucapkan janji pernikahan sehingga sama sekali tidak punya ide dengan siapa mereka akan menghabiskan waktu hidup. Yang ini bukan pengalamanku, aku berharap ini juga bukan pengalamanmu.
Beberapa manusia senang mencari. Ketika mereka menemukan mereka tetap ingin mencari. Bahkan ketika mereka sudah mendapat semua, mereka masih mencari. Beberapa yang lain gampang bersyukur, bahkan ketika yang di dapat tidak sesuai dengan keinginan, mereka berhenti bersujud berterimakasih pada alam. Kamu pilih sendiri, mau yang mana untuk masalah cinta.
Cinta adalah sesuatu yang rumit. Dia mencintaiku, aku mencintai nya yang lain, dia yang lain mencintai nya yang lain lagi, dia yang lain lagi mencintai nya yang lain lagi lagi. Happy is about now, present time. Not  about the future or the past..dengan siapa kamu menghabiskan detikmu sekarang itu lah cinta sejatimu.

Sunday, September 16, 2012 - 0 comments

Child's name


Nama Anak. Kalau boleh sedikiiit nyesel boleh dong ya saya mengakui. Saya dulu nggak begitu niat buat cari nama anak. Katanya sih kalau masih di bawah 7 bulan ga boleh terlalu ngapa2in, maksudnya mungkin perlengkapan bayi, tapi menurut saya juga termasuk nama anak. Hihi. Apalagi pada usia 7 bulan si calon bayi waktu itu dalam keadaan sungsang, boro-boro mikir nama anak dan jenis kelamin, doa kami waktu itu Cuma posisi janin bisa normal. Tapi memang kami berdua masih jadi calon orang tua songong waktu itu, jadi nggak terlalu mikirin tetek bengek kebayian.
Tapi saya pernah bikin catatan nama calon bayi. Kandidat untuk cowok adalah : Yudha. Kalau nggak salah artinya pejuang. Tapi karena ramalan orang kebanyakan kalau anak saya cewek jadinya lebih banyak nama perempuan yang kepikiran. Sempet mau kasih nama “Sekar”. Mamah saya dulu katanya pengen kasih nama anak nya sekar, dan ga kesampaian. Lalu saya juga kepikiran nama “kidung”. Kesannya kalem, agung, dan indah. Kenapa ya waktu itu saya nggak kepikiran nama bule, yunani, sansekerta, atau bahkan arab? Nggak tau juga, saya mikirnya orang kalau tau nama anak saya nggak perlu nanya arti. Karena nama anak saya sudah terjelaskan dalam bahasa ibu kita. Oh tapi saya sempat kepikiran kasih nama “abigail”. Artinya anak kesayangan ayah. Tapi waktu itu murid di tempat saya bekerja juga bernama abigail. Takutnya dikira ikut-ikutan. Jadinya gagal deh kasih nama dari bahasa asing.
Jadilah kami memberi nama anak sesaat setelah saya melahirkan. Singkat dan padat. Mesti terdengar sangat sederhana di banding nama anak masa kini kebanyakan. Semoga besar nant,i ketika dia bisa punya uang buat ganti akte, dia nggak kepengen ganti nama. Hehe.



Friday, September 14, 2012 - 0 comments

Buku


Dulu sewaktu hamil ketertarikan saya terhadap buku menjadi berubah. Tidak lagi mengejar buku best seller atau yang memenuhi keinginan pribadi. Suka nya mengoleksi buku panduan tentang ibu dan anak. Tentang menu bubur bayi dan pure (MPASI), menu anak balita, kiat anak susah makan, bahkan sampai majalah dan tabloid pun yang bertema ibu dan anak. I dont care about the world deh. My world is only about me and my baby.
Setelah Ara besar saya berpikir berarti saya harus care untuk terus memberinya buku bacaan. Berarti kalau ke toko buku saya harus cari buku bacaan anak dong ya. Jadi kalau punya anak koleksi buku nya ya Cuma buku anak-anak dong yes. Nothing else.  Ternyata saya salah *menunduk*
Ketika kita punya anak, bukan berarti kita hanya memberinya buku anak-anak untuk dibaca nya. Tapi kita tetap harus memberi diri kita buku. Bukan lagi hanya buku kesukaan kita lho, tapi buku yang berkenaan dengan tumbuh kembang anak. Biasanya kumpulan tips disediakan oleh tabloid Nakita. Mereka mengeluarkan banyak seri buku tergantung usia anak, bahkan ada pula yang mulai masa kehamilan. Tapi selain itu ada buku-buku yang biasanya kurang di lirik oleh orang tua karena tidak biasa. Yaitu buku pendidikan yang biasa di gunakan oleh tenaga pendidik. Ya kan saya bener kan? Apa anda para orang tua (tentunya yang tidak berkecimpung di dunia pendidikan) memilih untuk membeli buku panduan guru? Mungkin hanya sedikit ya yang kepikiran.
Buku yang saya maksud adalah buku-buku panduan pendidikan bagi anak. Salah satu yang saya sukai adalah “Aktivitas Tematik Untuk Anak” terbitan Erlangga. Di buku itu banyak panduan kegiatan untuk orang tua sesuai dengan tahap usia anak. Untuk orang tua awam seperti saya buku itu membantu. Karena kita bisa menyediakan permainan menarik untuk anak untuk menstimulasi perkembangannya sesuai dengan usia. Contohnya yang saya lakukan kemarin adalah mengenalkan bentuk. Lingkaran, persegi, persegi panjang, dll. Melalui permainan menyenangkan. Masih banyak lagi kok. You’ll figure it out by yourself ya.
Kita sebagai orang tua jangan membatasi diri untuk mendapat ilmu pengetahuan. Semakin banyak kita tau semakin kita bisa bekerjasama dengan guru anak untuk meengusahakan pendidikan yang tepat bagi buah hati. Contohnya ya, saya baru tau, dari buku “Permainan Edukatif yang mencerdaskan” terbitan PowerBook Publishing, kalau potongan di permainan puzzle itu harus sesuai dengan usia anak. Contohnya : usia 2-3 tahun potongan puzzle nya tidak boleh lebih dari 4 biji, usia 3-4 tahun potongan puzzle nya tidak boleh lebih dari 5 biji, dan usia TK  potongan puzzle nya tidak boleh lebih dari 6 biji. Soal puzzle ini saya jadi ingat ponakan. Jadi emak nya si bocah ini jualan puzzle. Beliau membeli nya grosiran, jenis nya seperti puzzle yang biasa di jual di depan sekolah dasar itu lho. Jadi gambarnya macam-macam, dari spongebob yang obvious sampai gambar ultraman yang sophisticated. Dan potongannya itu nauzubilah banyak nya. Semua bentuknya geometris, abstrak serta surreal. Karena tiap hari  dia melihat puzzle itu kayak mainan aja jadinya  sang ponakan bisa merangkai nya lho, padahal usianya baru 4 tahun. Dari spongebobo, Mc queen nya The Cars, sampai berbagai macam versi Ultraman. So? You tell me.
Jadi, mari perbanyak koleksi buku perkembangan anak nya, ya bundz J



Tuesday, September 11, 2012 - 0 comments

what a mess


I dont like something is messing. Meskipun sekarang udah agak mendingan sih, lebih bisa tolerir ke diri sendiri kalau wajar rumah berantakan. Namanya juga ada balita, they are little monsters indeed. Rumah baru bisa bersih kalau anak tidur. Nanti kalau udah bangun ya berantakan lagi.
Selain ga suka yang berantakan, saya juga ga sabaran. Paling ga bisa nyuruh anak makan sendiri. Kelamaan dan berantakan. Kalau pun sedang waras terus anak boleh makan sendiri, itu pun tiap nasi berjatuhan pasti udah saya ambilin sebelum jatuh nasi yang kedua. Semakin menjadi-jadi kalau makan di luar rumah. Rempong deh cyun. Kalau suami paling ga bisa lihat orang ga pakai sandal. Cuma ke depan buat nutup pagar tapi ga pakai sandal pasti udah kena omelan. Well, you can imagine what kind of parents Ara has.
Memang benar kalau nggak kotor nggak belajar. Tapi susah ya kalau ngebiarin baju anak kotor kalau dijadiin alat buat minterin dia. Kalau bisa pinter dengan jalan bersih, kenapa enggak. Apalagi kalau pas lagi ada acara keluar terus dia kotor-kotoran. Ga rela rasanya. Kalau keluar kan berarti kita pakai baju bagus dong, ya paling enggak bukan piyama lah. Kalau sekali kotor bisa ilang kotorannya ya gapapa, kalau kedua ketiga, seberapa ampuh sih detergen bisa ngilangin noda yang udah bertumpuk? Ga sedap dipandang, baju nya ga bisa di pakai keluar lagi karena penampilan anak jadi kucel. Ya kan ya kan?
Beda sama kakak ipar saya. Dengan dalih semboyan ‘kalau ga kotor ga belajar/ga pintar’ dia membiarkan anak nya ngapain aja. Main lumpur, ga pake sendal, habis main di luar ga pake sendal terus naik ke kasur. Adoh, kalau itu namanya sih udah ga peduli kebersihan ya. Waktu keponakan masih kecil pernah saya singgung, dia Cuma jawab “ah dia mah tiap hari udah begitu”.  Dimana peran orangtua?
Baju kucel itu menunjukkan bagaimana kita mendidik anak lho. Apalagi kalau baju dipakai keluar rumah. Selain ga sedap dipandang, kebersihan dan ketegasan kita kepada anak bisa dilihat orang. Baju kucel karena main tanah, sampai yang warna aslinya putih menjadi coklat? Tandanya ada dua sebab : baju nya buat main tanah Cuma itu (sampai noda nya numpuk), atau detergen nya ga ampuh? :D ga ding becanda. It’s oke kalau sekali-sekali membiarkan anak main tanah, tapi sampai bajunya udah ga layak pakai, mending mulai membatasi anak dalam bermain. Ga setiap ada lumpur dia boleh nyemplung dong yes? Mungkin boleh aja saat main bola terus tiba-tiba hujan, jadinya mainan sambil kena lumpur. Atau kayak iklan salah satu sabun cuci baju, membantu nenek mencari kunci yang jatuh di kubangan lumpur. Itu dimaklumi, asal ga setiap hari. Bukan nya pinter, malah kena cacingan.
‘kalau ga kotor ga belajar’ itu justru filosofinya adalah mendidik anak hidup bersih. Kalau hari ini ga sengaja kena kotoran lumpur, besok jangan lewat jalan yang itu lagi. Kalau kena tumpahan saos saat mau ambil dari botolnya sendiri, besok lagi lebih hati-hati bawa botolnya. Dulu waktu di sekolah lama, tiap kali mau main cat/kotor orang tua selalu diberi catatan untuk memawa extra clothes yang bisa dipakai kotor-kotoran, jadi seragamnya tetap aman. Terus lagi, Kalau hari ini baju kotor kena tumpahan es krim, berarti ngajarin kalau besok lebih hati-hati makan es krim nya. Minimal tiap hari semakin sedikit tumpahan es krim yang jatuh. Atau maksimal nya jangan pakai cone, tapi pakai cup + sendok aja. Ya nggak sih? (pembaca menjawab : enggaaakk!)
Saya memang bukan tipe mencuci sampai kinclong, baju anak juga ga putih-putih amat. Tapi kalau bisa kucel nya masih sedap dipandang karena kena keringet, bukan karena membiarkan anak bermain sesuka mereka. Keterlaluan? Nggak juga. Waktu anak saya baru satu tahun dia tau kalau habis makan susu terus kemasan kosongnya di buang di tempat sampah. Sekarang pun kalau ada kotoran yang jatuh di lantai dia pungut. Kalau makan ada nasi jatuh dia bilang ‘mah, ada nasi’ minta untuk dibersihkan dari mulut/baju/lantai tepat ia makan. Nggak jelek-jelek amat  kan kalau belajar bersih sejak dini?
Kalau boleh kotor-kotoran, boleh juga dong bersih-bersihan. You know, balance.





Tuesday, September 4, 2012 - 0 comments

neighbor music


Emang bener ya kalau usia nggak bisa menipu, salah satu tanda nya ya cara nangkep musik baru. Aduh, berasa ketinggalan jaman banget kalau ga sengaja liat chanel musik. Gimana lagi, satu-satunya alat komunikasi jendela dunia di sabotase sama si kecil.
Palingan yang sering di dengerin-itupun kalau anak lagi tidur-Cuma lagu-lagu koleksi waktu muda. Itu juga kalau ga kalah sama speaker tetangga sebelah saya. The grany next door likes to listen old songs. Kalau nggak Nia daniaty ya jaman Poppy mercury. Itu sih masih bisa di tolerir ya. Nah pernah nih suatu pagi saya keluar rumah mau jemur pakaian, sayup pelan lalu mengeras terdengar lagu lama sekali seperti tahun 60-an, mungkin sih suara nya Lilis Suryani. Mana rekamannya nggak sejernih sekarang kan ya, jadinya malah merinding. Buru-buru saya nyetel TV, sapa tau saya balik ke tahun-tahun kelam itu. *Heleh, nggak sampe gitu ding*. Now you can guess what kind of life is mine.
I have an ever lasting favorite song. Not beacuse the lyric, i just love it. Vnda Shepard-Baby don’t you break my heart. Saya lupa kenapa suka, saya lupa dari mana pertama dengerin. Tapi saya ingat saya punya kenangan dengan lagu itu. Jadi, dulu waktu masih kerja di jasa internet, semua karyawan mempunya bank data di satu server. Tapi layaknya sebah loker tanpa kunci, siapapun bisa membuka folder karyawan lain. Itu kalau mau, tai buat apa sih, kebanyakan sih pada nggak peduli isi data masing-masing karyawan. Then it came my birthday, tepat nya saya lupa, kayaknya tahun 2006, my 21st. Setelah selesai mempersiapkan yang saya perlu siapkan tiba lah saya duduk manis di depan komputer. Seperti biasa saya membuka folder data saya, dari banyak folder saya melihat 1 folder baru. Oh i forget what it was wrotten. Kayaknya just said happy birthday to me. Lalu saya klik lah isinya apa. Ternyata lagu ituh, vonda shepard. Ternyata dari teman kerja. It was so sweet. Kok dia tau saya suka lagu itu ya? Ah saya lupa segala detail, hanya saja it was one of sweetests birthday present for me.
Tapi, mau lagu kapan pun itu, kita harus tetap mendengarkan lagu. Okay.

Saturday, September 1, 2012 - 0 comments

Menyusui


Ngomong-ngomong tentang menyusui, saya kepengen berbagi pengalaman. Saya menyusui Ara selama 22 bulan. Gagal jadi sarjana Asi karena saya memutuskan untuk bekerja di usianya yang hampir 2 tahun itu. Sedih sih, tapi tetep bangga dengan hal tersebut. Padahal bapaknya bilang saya boleh menyusui bahkan sampai Ara menginjak sekolah dasar. Gile aje, pikir saya waktu itu. Tapi sebenarnya sih tidak ada salahnya selama si anak mau. Mereka punya batas sendiri.
Menyusui tidak semudah yang para ibu berhasil katakan. Pada mula nya begitulah yang terjadi pada saya. Di rumah bersalin, anak saya pada jam awal kelahirannya hanya di beri air gula, lalu ketika di berikan pada saya ( 6 jam kemudian, i didn’tdo IMD ) ASI tetap tidak keluar. Maka dia diberi susu formula ber-merk L. Mungkin susu formula itu memang sponsor rumah bersalin tersebut. Sesampainya di rumah saya tetap berusaha menyusui meski susah keluar. Karena kasihan dengan bayi Ara maka kami memutuskan membeli susu formula sebagai ganti ASI. Sementara itu saya tetap terus berusaha menyusui karena kalau tidak menyusui maka payudara akan penuh dan rasanya sakit sekali. Lama kelamaan saya menikmati menyusui karena kelegaan yang saya rasakan setelah ASI berhasil di sedot Ara. Tapi saya tidak tau seberapa banyak ASI yang keluar sampai suatu hari setelah menyusui ASI masih muncrat kemana-mana dan berhenti nya lama. Surprise sekali bagaimana tubuh saya bisa menghasilkan ASI sedemikian banyak. Sampai-sampai saya harus menyiapkan kain untuk membumpetkan payudara yang tetap mengeluarkan ASI ketika si kecil sudah kenyang. Meskipun kalau saya mencoba memerah dengan tangan tidak sampai bisa memenuhi botol susu tapi saya tetap bersyukur anak saya mengalami peningkatan berat badan pada bulan-bulan pertama. Saya sampai khawatir bagaimana sebenarnya cara kerja payudara. Nanti jangan-jangan seperti silicon nipple yang tetap menumpahkan susu bila di biarkan terbuka dan dalam posisi miring. Ternyata kekhawatiran itu tidak berlangsung lama. Mungkin awalnya memang payudara overload, tapi lama kelamaan seiring dengan pintarnya si kecil menghisap dan kebutuhannya akan ASI yang terus bertambah maka payudara tidak akan mengeluarkan ASI bila tidak di sedot. Ajaib yah.
               Tapi kalau sudah menyusui rasanya enak kok. Saya rasa tapa adanya ruang menyusui di tempat umum kita tidak perlu malu untuk menyusui bayi kapan saja. Orang-orang akan memaklumi. Hanya saja memang tidak semua orang/tempat mau menyediakan kursi bila ibu akan menyusui. Kalau saya sih nggak saya ambil pusing, bayi saya tetap saya gendong sembari saya menyusuinya. Saya bisa menyusui meski tanpa kursi. Seorang teman pernah memperingatkan, yang saya tidak tau apa sumber yang membuatnya mengatakan demikian, bahwa bila saya selalu menyusui bayi saya sambil di gendong maka selama nya dia akan minta di gendong bila ingin menyusu. Maka saya harus membiasakannya menyusu di tempat tidur. Saya sempat takut juga, gimana kalau bayi saya berbobot 10 kg dan masih minta di gendong bila ingin menyusu? Tapi kekhawatiran saya tidak terbukti. Usia lebih dari 6 bulan Ara sudah bisa memilih mana tempat yang lebih enak kalau menyusu, tempat tidur. Jadi nasehat teman saya itu tidak berguna. Hehe. Orang tua terlalu banyak aturan dan keinginan, padahal bayi tau apa yang baik untuknya dan kapan waktu tepatnya.

                Ngomong-ngomong soal aturan, bayi anda tidak bisa anda atur kapan ia mau menyusu. Termasuk saat malam hari. Karena Ara hanya menyusu di 1 payudara, yaitu sebelah kiri, maka selama kurang lebih  1,5 tahun saya tidur dengan posisi miring ke kiri. Karena dari sebelum tidur sampai bangun pagi Ara akan mengenyot puting payudara saya, apakah ASI nya keluar atau tidak saya tidak tau, buktinya ia tidak sampai muntah. Jadi selama kurang lebih 8 jam saya tidur miring dan tidak bisa bergerak. Setiap malam selama lebih dari setahun. Ah, you don’t know what  motherhood is all about kalau nggak sempet ngerasain hal begituan. Hehe. Di tambah saya sering duduk dalam posisi membungkuk, maka terkaan anda benar. Saya mengalami back pain, selama hampir 3 tahun ini.
Anda dapat membaca cerita saya mengenai sapih disini. Sejak di sapih maka saya bisa dengan bebas bergerak seperti dulu lagi. Rasanya melegakan sekali. Mungkin hanya satu bulan. Setelahnya rindu sekali masa-masa menyusui. Apalagi kalau payudara sakit ketika akan menstruasi. Pengennya ASI dikeluarkan, tapi lalu ingat, kalau sudah tidak menyusui lagi.
Mungkin cerita menyusui selama hampir 2 tahun tidak semudah yang saya ceritakan selama beberapa paragraf saja, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Anda tidak tau apa yang harus anda bayar ketika anak anda besar bila anda tidak menyusuinya. Harganya lebih mahal dari penderitaan menyusui. Anak saya sakit bila memang daya tahan tubuhnya sedang drop. Well, she’s not an angel, maka dia juga sakit dong. But thank God, sakit nya yang paling parah adalah Utikraina. Kalau saya ingat-ingat sih itu karena daya tahan tubuhnya yang drop. Kalau lagi down gitu paling dia Cuma flu, batuk, dan utikraina itu. Anak saya sempat terkena panas sampai 40 derajat celcius, dalam kondisi demam setinggi itu saja anak saya masih sadar dan bersikap biasa saja. Itu baru beberapa keuntungan dari disusui, banyak lagi yang anak saya dapat dari mengkonsumsi ASI ibu nya sendiri.
Keuntungan lain adalah, cara pengucapan kalimat yang jelas, meski anak saya baru menginjak 2,5 tahun. Menyusu pada payudara ibu membuat simulasi mulut pada anak lebih sempurna di banding bila ia menggunakan silicon nipple. more advantage, katanya juga sih anak ASI lebih mudah menerima makanan di banding dengan anak SuFor. Karena rasa ASI akan mengikuti apa yang ibu makan, sedangkan SuFor kan gitu-gitu aja ya rasanya. Jadinya tanpa sadar bayi sudah makan soto, opor, rawon bahkan ayam goreng. Dan lagi, ASI itu menjadi dingin bila cuaca panas dan menjadi hangat bila cuaca dingin. Kalau gini apa sih yang bisa menandingi ASI?
Oya saya jadi ingat sebuah cerita lucu, seorang teman pernah bilang kalau busui jangan makan cabe. Karena biji cabe bisa keluar dan kemakan si kecil. Saya heran, masasi lubang puting yang hanya bisa dilalui air kok bisa mengeluarkan biji cabe? Hilarious. The fact is, rasa pedas cabe tidak akan di rasakan oleh si kecil, larangan untuk busui agar tidak makan cabe berlebihan hanya agar tidak diare. Kalau anda diare kan agak repot kalau menyusui bayi. Masuk akal kan? That’s why we need to find more knowledge by READING.
Selama menyusui anda tidak dapat menggunakan baju terusan (dress), baju-baju terusan saat remaja *eciye* hanya bisa dipakai kalau sudah tidak menyusui, dan tentunya bila berat badan anda sudah ideal. You can nnot imagine what busui would do kalau semua orang memaklumi ketika anda makan banyak. “ maaf ya, maklum, buat dua orang”. Argh, alasan! Hehe...
Banyak cerita dan manfaat yang di dapat dengan menyusui. So, go breastfeed your baby J

Thursday, August 30, 2012 - 0 comments

I love to write


Saya suka menulis. Bukan karena saya bisa merangkai kata-kata dengan ciamik. Bukan karena agar di baca orang. Bukan karena biar dapat duit. Saya hanya suka dan harus menulis.
Saya pernah membaca sebuah istilah “ scripta manent, verba volant”. Tulisan itu mengabadi, kata-kata akan berlalu seperti angin. Istilah itu tertanam sekali dalam pikiran saya. Saya lah yang membuat catatan sejarah tentang diri saya sendiri. Penting atau tidak bukan lagi urusan, yang penting nulis.
Saya biasa menulis melalui media blog. Sebenarnya saya tidak mengharap ada yang membaca, hanya saja bila kita menulis di media sosial itu berarti kita terpacu untuk menciptakan tulisan yang baik, minimalnya enak di baca lah. Syukur-syukur topik atau cerita yang kita angkat memberi manfaat/inspiratif bagi orang lain.
Tapi sejarah saya dengan blog cukup panjang juga. Saya pernah suka curhat lewat blog. Jaman itu belum pakai istilah galau. Dan belum marak social media seperti sekarang. Jadinya hanya orang-orang yang memang tau mengenai blog saya yang bisa membacanya. Galau nya masih elegan. Saya suka menulis puisi waktu itu. Kata seorang teman, kalau kita sakit hati kita jadi kreatif. Been there.
Lalu setelah masa kelam penggalauan berlalu saya ganti blog. Lebih terbuka dan suka menceritakan hal-hal umum. Lalu saya bergabung dengan komunitas blogger. Then I found out that I wasn’t making a good desicion by doing that :D udah, introvert sih introvert aja. Tapi saya bersyukur saya punya satu teman yang nyantol dari perkumpulan itu. She’s as smart as dictionary, i love to have a friend like her.
Tapi sayangnya saya sempat pernah nggak nge-blog lama sekali. Dari hamil sampai melahirkan. Setelah melahirkan saya berpikir, masak saya akan membiarkan sejarah yang berlangsung antara saya dan keluarga baru saya berlalu dan tertiup angin. Dan jadilah saya nulis lagi mengenai pengalaman menjadi ibu muda baru. Refreshing sekali.
Lalu saya sempat merasa terganggu ketika ada masalah keluarga mengenai dunia maya. Itu membuat saya mem-filter mana tulisan yang sangat pribadi untuk tidak di-publish dan membuat tulisan  yang nggak akan jadi bumerang di kemudian hari. *for you, I’m watching you, dude! I know you will always looking for my blog, because I won’t stop writing just because of you!!!*
Malam ini saya membuka folder tentang blog lama, saya membaca sebuah tulisan yang membuat saya terkejut. Seperti “oh iya ya, kan hal ini pernah terjadi, kok saya lupa”. Itu membuat saya bersyukur saya pernah menulisnya.
I love to write, i am blessed.